Sebelumnya: 01


highlight: Pantai: Kuta Lombok, Mawun, dan Tanjung Aan; belajar sekilas bahasa Lombok, Nyongkolan, Ayam Taliwang

Basa-Basi.
Hari ke dua dan saya bangun kesiangan! Pagi-pagi buta sebenarnya saya sudah bangun karena Mas Yudha datang mengantarkan motor sebelum dia berangkat kerja, tapi mungkin masih sisa kecapekan dari aktivitas minggu lalu ditambah deg-degan trip, akhirnya pulas deh tidur begitu sampai di tujuan. Saya putuskan untuk menyewa motor selama 4 hari, terhitung dari tanggal 4-7 Juni, total IDR 200.000. Seperti yang sudah diputuskan malam sebelumnya, hari ke dua ini saya akan main di pantai-pantai yang sejejeran dengan Pantai Kuta Lombok, yaitu: Pantai Mawun dan Pantai Tanjung Aan. Let’s go!


Sekitar 10.00 WITA
Setelah siap-siap dan sarapan Nasi Bungkus seharga IDR 5.000 yang dijual seorang bapak yang keliling penginapan dari pagi, yosh, berangkat! Btw, nasi bungkus di daerah Lombok cara mbungkusnya beda dengan nasi bungkus yang biasa saya lihat di Jawa. Di Lombok dan Bali bentuknya mirip cone dengan kisaran harga IDR 4.000-6.000 dan lauk yang meliputi antara suwiran ayam, telur rebus atau iris, mie goreng a la kadarnya, tempe orek, dan kawan-kawan. Rasanya wuenak loooh!

Rute hari ini akan melewati bypass menuju bandara di Praya, mirip dengan rute Damri kemarin, dan terus melaju ke selatan, sekalian melewati Desa Sade yang tersohor. Pertama-tama, isi bensin IDR 13.000 full tank sebelum menggelinding ke pitstop pertama: Pantai Kuta Lombok.


Click to enlarge.
Kira-kira beginilah rutenya menurut peta. Btw, ini peta dari brosur Perama loh, very helpful.

Sekitar 11.25 WITA

Touch down Pantai Kuta Lombok!

Saya menerobos pemukiman di pinggiran pantai yang terkenal dengan pasir mericanya ini sesopan mungkin (alias minta ijin dulu sebelum lewat). Dengan muka nyengir-nyengir bego, pantat pegal dan tangan gemetaran efek mengemudi motor hampir satu setengah jam dengan kecepatan rata-rata 65km/jam, saya parkirkan motor di sebelah rumah penduduk, dan segera menuju bibir pantai. Akhirnya sampai juga di pantai ini!

Setelah puas jepret sana-sini, tak sampai 10 menit, saya pun pamit dengan para penduduk sekitar yang rada bingung dengan kehadiran saya hehehe. Sepertinya tempat yang saya masuki ini bukan wilayah turis namun wilayah pemukiman nelayan, karena banyak sekali kapal-kapal nelayan yang berjejer dan jala-jala yang dijemur. Okesip, karena tujuan utama Pantai Mawun, maka perjalanan pun berlanjut.

12.00 WITA!

Ketemu dengan para sapi yang sedang ngadem di pinggir jalan hehehehe

Hampir setengah jam perjalanan berkelak-kelok, menanjak dan menurun barulah saya sampai di Pantai Mawun. Keberadaan pantai ini saya ketahui dari teman favorit saya saat jalan-jalan solo, yaitu: Trip Advisor. Tak salah keputusan saya untuk mampir ke Mawun yang ternyata lebih indah dari yang saya harapkan! Terlebih lagi tempatnya sepi, hanya beberapa wisman terlihat sedang bersantai di bawah pohon sambil menikmati suasana pantai, bahkan penjual oleh-oleh khas Lombok atau penjaja jasa jarang terlihat. Sepi, sepi, sepi, Mawun is all mine~!

Tak mau kalah, saya segera lepas sendal, taruh tas, dan bermain air sejenak, sebelum akhirnya menyerah dengan panas matahari yang terik dan akhirnya duduk bengong saja menikmati tenangnya pantai.


Bengong sejenak…

Beberapa saat kemudian segerombolan anak kecil masuk ke daerah pantai dan mulai nyebur ria. Asyiknya anak-anak ini, saya pun ikut tersenyum melihat kegembiraan mereka. Kemudian seorang gadis kecil manis mendatangi saya, mengajak kenalan. Susi namanya, dan tiba-tiba saja saya dikerumuni oleh anak-anak lainnya. Saman, Diana, Ani, Meril, dan banyak lagi, satu-satu berkenalan dengan saya, bahkan mereka mengajari saya sedikit bahasa Lombok, seperti kalimat buat kenalan: “Aran kaku Ellen, aran side sa’i? (Nama saya Ellen, nama kamu siapa?)”, “Te lalun daus! (Ayo main air!)” dan beberapa kosakata lain seperti Bulu (rambut), Ae Segara (air terjun), dan macam-macam, ini saja saya ga yakin bener mengejanya.


Ah senyuman itu, gelak tawa itu!


Serbu~!


Saman yang pantang menyerah sampai dapat pose foto yang ca’em >D


Diana dan Susi yang cantik nan ramah~

Satu jam lebih berlalu dengan cepat dan saatnya saya pamit. “Daaa~!” Saya lambaikan tangan pada mereka yang masih asik bermain dengan ombak. Sayup-sayup terdengar Saman yang berteriak dari kejauhan: “Sering-sering mampir ya kak!” Huwaa! Pasti dek Saman, entah kapan saya pasti kembali, batinku. Pukul 13.30 WITA saya berangkat menuju destinasi berikutnya, tak lupa membayar parkir motor Mawun IDR 5.000.

Ada kejadian lucu juga, jadi salah seorang wisman dari Italia mengira saya guru dari anak-anak ini dan meminta bantuan saya agar bisa foto bareng mereka. Ah, saya jadi makin kangen dengan mereka.. semoga bisa balik lagi, semoga masih bisa ketemu lagi, semoga mereka masih ingat dengan saya~ šŸ˜€

14.12 WITA

Lagi-lagi ketemu sapi yang sedang ngadem di padang rumput dekat Novotel

Yep, setelah melalui perjalanan yang berbatu-batu, sampai juga di Pantai Tanjung Aan (bacanya An ternyata, bukan A’an!). Yang pertama kali saya lakukan? Mangap! Damn! Indahnya paraaaaaah! Itu pasirnya bener-bener putih loh! Dan—ini bagian favorit saya—pasirnya bukan pasir njeblos tapi pasir solid, yang bahkan saya bisa naik motor (tentu tidak saya lakukan) di atasnya tanpa harus takut bannya nyelip. Dan, lagi-lagi, pantai ini sepi dari pengunjung. Lucky day! Tanjung Aan is all mine, too :]


Cakep kaaaaan? =O

Kali ini tidak ada anak-anak yang menyapa saya dalam kebengongan ini, hanya beberapa penjual kaos bertuliskan Lombok.


Aaah, tenangnya pantai ini. Birunya. Cantiknya~

Di sini pengunjung juga bisa naik perahu nelayan (IDR 100.000 per 3 orang, uhm bisa ditawar lagi sepertinya) untuk menjambangi Batu Payung, sebuah batu yang wujudnya seperti payung dan merupakan tempat syuting sebuah iklan rokok. Anyway, saya tidak ke situ, karena bengong sambil dipping kaki sesekali di pantai yang indah begini saja sudah cukup bagi saya.

Sekitar 16.00 WITA
Lagi-lagi bila ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Saya yang tidak ingin pulang terlalu malam pun pamit, soalnya kalau nyasar malam-malam repot heheh. Tak lupa sebelum pulang ngobrol sebentar dengan mas-mas yang nongkrong di parkiran dan mendapatkan info kalau tiap hari Rabu, pantai ini pasti ramai dengan penduduk lokal, karena mereka nyekar ke makam salah seorang penyebar agama Islam di Lombok setiap hari Rabu dan pasti mampir ke pantai begitu pulang dari sana. Nah, kalau ada yang penasaran, boleh dicoba datang ke Tanjung Aan di hari itu. Setelah membayar IDR 3.000 untuk parkir motor saya lanjutkan perjalanan saya. Oh iya, kalau ada yang mau mencari penginapan dekat Praya bisa minta bantuan Abang Li (087864555625).

Dalam perjalanan pulang, saya kembali melewati Desa Sade, tapi sayang hati ini belum berniat untuk mampir, jadi saya lewati kesempatan kali ini, berpikir lain kali saya pasti akan datang lagi, amin! Sambil mengemudi pelan-pelan, saya celingak-celinguk, berusaha menyerap kehidupan sehari-hari yang ada di Lombok, tiba-tiba ada yang menarik perhatian saya! Tak hanya sekali, dua kali, tapi banyak kali saya berpapasan dengan pemuda-pemudi lokal yang mengenakan pakaian khas—seperti umat Hindu di Bali ketika menuju ke Pura untuk sembahyang—yaitu sejenis kebaya encim, kain lilit dan ikat kepala.

Eh, ada apa ini?

Setelah bertanya, ternyata ada Nyongkolan, alias arak-arakan untuk mengiringi sebuah acara pernikahan! Di perjalanan pulang ini saya ketemu dua Nyongkolan! Wuih, rame, seru dan meriah!

Menurut salah seorang penduduk lokal yang juga turut menikmati acara Nyongkolan yang lewat di depan rumahnya, pernikahan kali ini mempelainya beda desa, makanya ramai, sampai memenuhi satu blok jalan. Owalah, jadi bukan macet a la Jakarta yang saya alami, tapi nikahan! Lumayan saya jadinya sempat menikmati musik arak-arakan yang khas, diiringi kecimol (kelompok drumband) yang juga memainkan gendang beleg. Seperti melihat marching band minus gerakan-gerakan formasi. Seruuu~!


Selamat menempuh hidup baru, semoga langgeng!

Done with jepret-jepret dan joget-joget, maka saya lanjut lagi, kali ini sambil deg-degan mikirin jalur pulang yang ga bikin nyasar, tapi juga ga lupa menikmati yang hijau-hijau sepanjang jalan!


Sejuknya alam Lombok yang masih hijau dan tak bergedung pencakar langit x)

Setelah perjalanan jauh plus nyasar-nyasar sedikit di daerah Mataram, saya menyempatkan diri untuk membeli sebungkus Ayam Taliwang dari rumah makan dekat penginapan. Satu ayam utuh, sambal terong, kuah gulai yang khas dan nasi putih panas—IDR 30.000 untuk makan malam yang mantap rasanya.


Maknyus!

Aaah, hari ke dua yang menyenangkan! Sekarang tinggal menyiapkan mental dan stamina untuk perjalanan besok, yang lebih jauh dan menantang, yaitu menuju air terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep di Senaru. Til, next part then!



Pengeluaran Akomodasi H1:

  • Nasi Bungkus – IDR 5.000
  • Bensin – IDR 13.000
  • Parkir Motor Mawun – IDR 5.000
  • Parkir Motor Tanjung Aan – IDR 3.000
  • Ayam Taliwang – IDR 30.000
  • Sewa Motor 4-7 Juni – IDR 50.000 x 4 hari = IDR 200.000


  • Next: Trip LomBa: Segar dan Seru – Air Terjun Sendang Gile dan Tiu Kelep!

    Advertisements