Note: Perjalanan ini merupakan salah satu kegiatan liputan dari program Internship Wego Indonesia. Saya di minggu pertama memilih untuk menjelajahi Kota Tua dan Pasar Baru.

Artikel Museum Wayang untuk Wego Indonesia yang diedit Mba Clara Rondonuwu, tayang di sini.

Menuju Kota Tua..


Stasiun Kota aka Beos

Suasana Stasiun Kota yang hiruk pikuk segera menyambut TTM yang baru saja turun dari kereta listrik jurusan Bogor-Kota. Sudah lama sekali saya tidak bermain ke kota. Ada yang berubah, suasana stasiun ini lebih tertib. Penertiban stasiun dan penerapan sistem e-ticketing yang di setiap stasiun di Jabodetabek sepertinya membawa pengaruh positif. Ah, tak bisa berlama-lama menikmati suasana stasiun, saya dan Inna (lagi-lagi tanpa Debby), bergegas menuju tujuan kami: Kota Tua, lebih tepatnya ke Museum Wayang.


Ngeliatin syuting film jadul dan mobil-mobil antik yang mejeng di jalur pedestrian Kota Tua.

Panas terik tidak meluluhkan niat kami untuk mengunjungi museum ini untuk pertama kalinya. Melewati jalanan khas ibukota yang carut marut dengan kendaraan dan PKL, melewati para calo yang memegang bergepok-gepok uang baru dalam berbagai pecahan—maklum mereka adalah calo musiman saat lebaran sudah di depan mata—dan melewati sebuah syuting film bertemakan tahun jadul, sampailah kami di depan Museum Wayang yang sedang direnovasi bagian mukanya.

Museum Wayang!

Senyuman para staf Museum Wayang saat kami membayar tiket masuk lima ribu perak per orang membuat hati semakin riang untuk menjelajah dunia wayang yang menyimpan banyak sekali cerita. Ruang yang pertama kali kami kunjungi adalah Ruang Masterpiece, yang menurut jadwal hanya dibuka 2 jam tiap hari kerja, dan pada hari Selasa cuma sampai pukul 12.00 siang. Wah, harus buru-buru karena saat kami tiba sudah pukul 11.30!

Ternyata yang dimaksudkan sebagai Ruang Masterpiece adalah sebuah ruang berukuran tak terlalu besar yang menyimpan sejumlah kecil wayang dan benda-benda berkualitas sejarah, seperti Wayang Kulit Tejokusuman yang teknik pahatan dan tata warnanya rumit. Juga lampu penerang layar selama pertunjukan wayang atau blencong, lampu untuk menyinari layar saat pertunjukan wayang berlangsung, yang sudah berumur 200 tahun lebih. Wow!


Wayang Golek Bandung dan blencong berusia 200 tahun.

Di lantai dua yang didominasi dengan wayang kulit, koleksi-koleksinya bahkan lebih menarik lagi karena ditampilkan dengan cara yang unik, yaitu digantung dalam kotak transparan sehingga bisa diamati dari berbagai sisi dan sudut. Teknik pencahayaan di ruangan ini baik sekali, sehingga kita bisa melihat efek yang muncul dari tatahan tiap-tiap wayang. Sangat indah.


Asyik mengamati detail wayang.


Tatahan wayang terlihat lebih jelas di bawah lampu sorot.

Salah satu ujung di lantai dua adalah ruangan yang menyimpan koleksi wayang dari berbagai negara, seperti Malaysia, Thailand, India, Amerika, dan banyak lagi. Di ruangan ini juga kami bertemu Bu Ermi, staf Museum Wayang sejak tahun 1984 silam. Ia dengan ramah menyapa kami dan menjawab berbagai pertanyaan kami para awam pewayangan. Bu Ermi bercerita bagaimana bahwa renovasi tampilan dalam Museum Wayang yang kami nikmati saat ini bukanlah hal yang baik buat wayang-wayang tersebut, karena dengan digantung, wayang-wayang, terutama yang berbahan kulit, akan melengkung dan menjadi berkerut.


Kiri: Seorang wisman yang tertarik dengan boneka mancanegara.
Kanan: Boneka asal Polandia yang jadinya berpelukan karena setnya goyang hehehe..

Cinta a la Romeo dan Juliet

Bu Ermi juga kemudian menceritakan kisah cinta antara dua tokoh wayang bernama Bisma dan Dewi Amba yang tak kalah tragis dengan kisah Romeo dan Juliet.

Bisma sebagai seorang pertapa, berhasil memenangkan sebuah sayembara dan kemudian memboyong 3 orang putri dari Kerajaan Kasi untuk dinikahkan pada adik-adiknya di Kerajaan Hastina. Namun sayang, Dewi Amba telah memiliki tunangan, yaitu Prabu Salwa. Ironisnya adalah ketika Bisma melepaskan sang putri untuk kembali pada Prabu Salwa, Dewi Amba ditolak, karena menurut Prabu Salwa ia sudah menjadi milik Bisma yang menang sayembara. Ditolak, Dewi Amba pun kembali pada Bisma, namun sebagai seorang pertapa ia tidak bisa menikahi sang putri.

Sang putri tidak menyerah dan terus berusaha membujuk Bisma untuk menikahinya. Bisma teguh dengan janjinya untuk hidup sebagai pertapa, hingga suatu saat dia berusaha menakut-nakuti Dewi Amba dengan mengancam akan memanah sang putri. Takdir berkehendak lain, Dewi Amba tidak takut dengan ancaman dari Bisma, namun anak panah melesat lepas dari busurnya karena tangan Bisma yang berkeringat karena merentangkan busur terlalu lama, dan Dewi Amba pun mati karenanya. Sebelum maut merengutnya pergi, Dewi Amba berpesan bahwa dialah yang suatu saat nanti akan mencabut nyawa Bisma. Kelak ketika perang Kurukshetra terjadi, Dewi Amba yang menitis jadi Srikandi berhasil membunuh Bisma.

Apakah benci yang dirasakan Dewi Amba pada Bisma yang telah menghancurkan hidupnya, atau mungkin justru cinta yang membuatnya membunuh Bisma agar mereka bisa bersatu dalam kematian? Kisah cinta ini membuat kami berdua terpana, ternyata dalam wayang ada kisah tragis romantis selain Rama dan Shinta.

“There is a lot to learn about this country.”

Tak terasa sejam lebih telah berlalu dari saat kami duduk lesehan di lantai kayu yang rentan berderit sambil mendengarkan cerita-cerita dari Bu Ermi. Bahkan sempat mengobrol dengan beberapa wisman berkebangsaan Uganda yang penasaran dengan gambar-gambar yang ditempel di lantai. Gambar-gambar itu adalah cara membuat wayang kulit, atau ciri-ciri fisik dalam tokoh-tokoh wayang, seperti bentuk mata dan tubuh bagian bawah (bokongan).


Ciri-ciri mata dan bokongan dalam wayang kulit.

Mereka terkesima dengan Museum Wayang. Kata salah satunya yang baru saja pindah ke Jakarta karena suaminya pindah tugas: “There is a lot to learn about this country.” Saya setuju. “Yes, it is. Even for me, an Indonesian.

Saya dan Nana pun pamit pulang, dengan perasaan masih terpukau dan kepala penuh dengan cerita-cerita hebat. Ah, jadi ingin mengetahui kisah-kisah perwayangan lebih dalam lagi. Untung oleh Bu Ermi saya dipinjami tiga Majalah Wayang terbitan tahun 2008, yang sekarang sudah tidak terbit lagi. Lucky! :]


Yeah! Boleh dipinjam sampai akhir lebaran!

Btw, sekadar membantu orang yang telah berbagi cerita wayang dengan kami, saya bantu promosi di sini. Bu Ermi memiliki 2 set ensiklopedia, masing berisi 6 jilid buku tebal dengan kualitas kertas yang bagus. Dia menawarkan 1 juta per jilid untuk orang yang berminat membelinya, dan hanya dijual per set. Kalau tertarik bisa mencari Bu Ermi di Museum Wayang. (:


Ini tampilan depan dan keterangan produksi Ensiklopedia jilid satu.

Wayang Segede Transformer!

Masih ada lagi ruangan yang memamerkan wayang-wayang dan perlengkapan pertunjukan wayang, seperti satu set lengkap Gamelan Jawa. Kemudian, walaupun tidak ada pertunjukan wayang selama bulan Ramadhan, kami berhasil masuk ke dalam Ruang Pagelaran dan menemukan wayang golek ukuran robot Transformer. Ternyata wayang yang ini hanya untuk dipamerkan saja, tidak untuk dimainkan.


Ruang gamelan yang… sepi hehehe


Turis Taiwan yang tidak melewatkan kesempatan foto bareng wayang ukuran transformer!

Oleh salah seorang pegawai di Museum Wayang, saya juga sempat diramal sifatnya, dan wow, hampir semua tembakan ramalannya tentang saya, benar. Hahahah, so I am a pretty obvious person, huh?

Oh iya, kalau mampir ke Museum Wayang, di toko suvenirnya ada wayang-wayangan pembatas buku yang lucu-lucu. Ada kipas yang seperti gunungan juga. Harganya berkisar 15.000-50.000, kalau beli banyak kata stafnya bisa didiskon. Kalau mau beli wayangnya sih mahal, bisa ratusan ribu heheheh…


Kipasnya IDR 50.000, mau banget! Kalau pembatas buku dipatok IDR 15.000-35.000.

Ada juga pertunjukan wayang yang dilakukan tiap minggu ke 2, 3, dan 4, tapi selama bulan Ramadhan tidak ada. Kasihan dalang dan sindennya kalau harus mementaskan wayang sambil berpuasa, celetuk salah seorang staf saat ditanya.

Pokoknya ga rugi jalan-jalan ke Museum Wayang, seru euy!

Advertisements