TTM dan air terjun di Kebun Raya Cibodas!

SO! Akhirnya bisa lengkap juga jalan-jalan TTM kali ini dengan Debby. Seharusnya sih jalan-jalan ke KR Cibodas ini berlangsung tanggal 13, sayang beribu sayang saya dan Ina tidurnya ngebo. *ahem* I know what you are going to say, Deb. *ahem* Akhirnya perjalanan diundur sehari. :]

Menuju ke Cibodas, yeah!

Perjalanan dimulai dari Stasiun UI Depok, pemberhentian pertama adalah Stasiun Bogor. Puji syukur perjalanan menggunakan Commuter Line sekarang terbilang murah dan ekonomis. Jarak yang panjang bisa dilalui dengan waktu singkat tapi biayanya ringan pula di kantong. Maklum, BBM baru naik dan ongkos ke mana-mana juga melunjak. Ah, panjang lebar sekali saya bicara. Intinya, dari UI ke Bogor yang dulu bayarnya bisa Rp7.000-an sekarang cuma butuh 2500 perak!

Menjejak kaki di Bogor, si pencatat waktu sudah berangka 9 lewat. Buru-buru melanjutkan dengan angkot ke Baranangsiang, terminal angkutan umum di Bogor. Kita bertiga segera celinguk mencari keberadaan angkot 03.

“Tuh, mba Colt putih jurusan Cianjurnya,” ujar Pak Supir angkot 03 sambil memberhentikan mobil di jembatan penyebrangan dekat Baranangsiang. Ongkos dari Stasiun Bogor ke Baranangsiang Rp3.000 per orang.

Menghampiri Colt putih yang sudah sumpek dengan penumpang, kita putuskan untuk naik yang berikutnya saja. Begitu duduk di dalam Colt putih yang kosong, kita bercengkrama sedikit dengan si supir yang masih muda. Dipatok Rp30.000 ternyata ongkos untuk sampai ke pertigaan Cibodas. Waduh, tarif yang harusnya Rp17.000 sejak kenaikan BBM, digetok hampir dua kali lipat karena ‘lebaran’ dan ada pungli ‘THR’. Setelah ditawar dan ngotot dengan kerneknya, akhirnya cuma Rp25.000 yang melayang. Hitung-hitung amal deh, daripada nggak jadi jalan-jalan. Kurang beberapa menit dari jam 10, Colt putih jurusan Cianjur pun berangkat.

Dari Bogor ke Cibodas tanpa macet harusnya sekitar satu jam, tapi molor jadi satu setengah jam lebih. Itupun si supir sudah motong jalan dan kita tidak kena sistem buka-tutup jalan yang diterapkan Polantas. Libur lebaran memang belum usai, semua orang masih berpergian. TTM sih asyik berceloteh dan berkomentar sepanjang jalan, jadi tak begitu terasa macetnya.

Kira-kira hampir pukul 12.00, kita terdampar di depan mini market pas pertigaan menuju Cibodas. Setelah menambah perbekalan, kami pun menyebrang menuju dan menaiki angkot kuning tak bernomor yang sudah ngetem dari tadi di belokan yang menanjak.


Menambah perbekalan…

“Kalau dari bawah, 4KM neng.” Menurut supir, itulah jarak dari tempat ngetem dia tadi sampai ke depan pintu gerbang KR Cibodas. Tak terlalu panjang memang waktu yang dibutuhkan si angkot kuning untuk menanjak ke kebun itu. Ongkos ke atas cuma Rp3.000.

“Ah, akhirnya sampai juga,” pikir saya begitu melihat kerumunan orang yang sedang mengantri masuk ke dalam Kebun Raya Cibodas.

Petualangan Mencari Si Ciismun dan Cibogo

Segera setelah membayar 9.500 rupiah per kepala, TTM masuk ke dalam Kebun Raya Cibodas. Temperatur udara saat itu dingin, berkisar 18-27 derajat Celsius. Bagaimana tidak? KR Cibodas terletak di ketinggian 1.275mdpl dan berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango. Segera setelah masuk kita bertiga mantengin peta lokasi yang dipajang dekat pintu masuk. Wah, banyak juga yang bisa dinikmati di Kebun Raya Cibodas. Ada koleksi ragam tanaman seperti koleksi tanaman obat, paku-pakuan, anggrek sampai kaktus. Bahkan ada Bunga Bangkai juga, apakah kami akan berhasil menemui bunga langka satu ini di KRC setelah gagal bertemu di perjalanan KRB silam? Simak terus perjalanan kami, hehehehe..

Nah, nah, sambil memperhatikan peta kami menemukan fakta bahwa di KRC ada dua air terjun, yaitu Curug Ciismun dan Curug Cibogo. Keduanya terletak agak jauh satu sama lain, terutama bila menuju ke sana dengan trekking. Kalau naik kendaraan sih cepat.

Pikir-pikir saya sendiri tahun ini banyak berjumpa dengan air terjun, TAPI! Bermain di air terjun, belum pernah, jadi kali ini saatnya saya puas-puasin bermain di air terjun bersama Debby dan Inna. Oke destinasi pertama adalah Curug Ciismun. Dari pintu masuk utama sekitar 2km menuju pojok selatan KRC..

Curug Ciismun

Kita bertiga mengambil rute melewati pepohonan Araucaria, tanaman sejenis cemara. Tidak henti-hentinya deh TTM ber-wow-wuih ria, saat mata dimanjakan dengan pemandangan yang bernuansa hijau. Kami pun berjalan santai sambil mencari-cari petunjuk jalan menuju Ciismun.


Tidur-tiduran di padang rumput!


Pose dengan gunung dan langit biru sebagai background!


Victory pose!


Melewati pohon-pohon menjulang Araucaria..

Rupanya dari arah kolam besar, kita harus menyusuri lintasan berbatu yang menurun dan bertangga curam. Lintasannya sempit, terjal dan ga ada pondok untuk istirahat. Kalau Kebun Raya Cibodas sedang ramai, turunnya harus ngantri. Tracknya sendiri tidak panjang, mungkin sekitar 300m.


Menghalang jalan orang sambil pose.. *uhuk*

Setelah menuruni tangga batu tersebut, lintasannya berganti menjadi lintasan tanah yang lurus dan rata, setidaknya sampai mendekati air terjun baru terlihat sedikit berundak dengan batu-batu kali besar menghadang jalan. Beberapa kali harus menyebrang sungai kecil yang diatasnya sudah diberi balok-balok kayu sebagai jembatan.

Nah, begitu bertemu dengan Curug Ciismun ada rasa yang membuncah di dada, seperti ketika menerima hadiah yang sudah dinanti-nanti. Padahal jaraknya mungkin masih 50m ke depan, tapi sudah langsung foto-foto narsis.


Ciismun lagi jadi primadona hari itu. Ramai, euy!

Hari itu ramai sekali pengunjung yang berkumpul di bawah air terjun. Ya, masih suasana libur lebaran, sih ya. Tentu saja kerumunan orang-orang itu tidak menciutkan hati kami bertiga untuk terus maju sampai akhirnya bertatapan dengan curahan air tumpah dari ketinggian 25m yang mengabutkan sekitarnya.

Pas sudah di depan air terjun mulai deh celup-celup kaki di kolamnya yang dangkal. Beuh, dinginnya ga ketolongan deh. Tapi seru! Mulai deh narsis di bawah air terjun. Brrr! Dinginnya sampai-sampai tuh jari-jari tangan mulai gemetaran dan gigi gemeletukan. Tapi rasa kedinginan tetap kalah kuat dibanding rasa senang bisa bermain di bawah air terjun yang sudah dinanti-nanti! Cihuy~


Dari pose di pinggir kolam air terjun sampai diguyur air terjun~

Untung sebelumnya sudah bawa perlengkapan pakaian ganti. Walaupun akhirnya ga ganti baju, sih, karena mikirnya masih mau basah-basahan di Curug Cibogo. Nih, kalau boleh disaranin bawa apa saja ke air terjun, baca artikel di Wego yang saya tulis, biar persiapan jalan-jalan-main ke air terjun lebih matang.

Saking dinginnya air curug Ciismun, ditambah hawa di Kebun Raya Cibodas yang memang sudah dingin, plus kondisi tubuh saya yang kurang fit dan tidak segera berganti pakaian selesai bermain di air terjun ditambah lagi belum makan siang, saya hampir kena gejala hipotermia. Kata Debby sama Inna muka saya sampai membiru. Heee, amit-amit! Ayo buru-buru makan siang kalau begitu! Setelah mendapat pojokan di pinggir sungai di atas batu kali besar, kami pun menggelar dagangan, eh, makan siang kami. Saat itu waktu menunjukkan hampir jam 3 siang. Pantas si perut sudah keroncongan.

Eh untung saja kami bawa makanan, karena ga banyak warung makan di Kebun Raya Cibodas. Ada satu kantin di dekat pintu masuk dan kolam besar sebelum jalur Araucaria. Paling banter kalau di dekat air terjun, ya penjaja mie cup instan. Jadi, lebih baik membawa makanan sendiri biar sekalian piknik. Tentu saja sehabis makan jangan sampai menyisakan sampah ya…

Perut sudah terisi, lanjut ke Curug Cibogo.

Curug Cibogo


Mejeng dulu sambil menuju air terjun kedua..

Dari Curug Ciismun bergerak menuju Curug Cibogo, ternyata tidak perlu susah payah menanjak tangga rute sebelumnya. Ada rute jalan santai mengikuti aliran air sungai melewati pintu masuk no 3 dan terus saja mengikuti jalan berbukit, melewati koleksi tanaman obat, terus menuju ke Taman Sakura. Sekitar 30-40 menit kemudian, setelah melewati berbagai pemandangan yang menggugah untuk foto-foto narsis, kami pun tiba di Taman Sakura. Eh, tiba-tiba kami mendapati suara gemericik, dan ta-da menyembul di balik pepohonan ada Curug Cibogo. Tingginya 11 meter dan sedikit mengundak di bagian bawah, jadi kucurannya tidak sederas Curug Ciismun.


Cibogo, we pinned it!

Wisata ke air terjun memang bisa membuat ketagihan. Medannya yang terkadang terjal memancing adrenalin, suasananya yang cenderung hijau dan asri, juga udara yang bersih, dingin dan menyegarkan. Kayaknya kalau ke air terjun itu paket lengkap jalan-jalan deh. Tapi ya, menemukan Curug Cibogo lebih mudah dari Ciismun yang lintasannya lebih berat bikin sedikit kecewa sih. Untungnya, letak Cibogo yang strategis dengan tempat santai seperti Taman Sakura dan Jalan Air membuat antrian bermain air tidak panjang. Puas narsis di Cibogo, lanjut lagi narsis di Taman Sakura dan Jalan Air.


Narsis di Jalan Air..

Kalau sedang beruntung, menurut papan keterangan area taman, di bulan Januari-Februari dan Agustus-September, bisa loh piknik sambil menikmati bunga sakura yang bermekaran. Sayang TTM kurang beruntung hari itu, yang ada hanya pohon-pohon gundul. Di perjalanan menuju pintu keluar, kami melewati hamparan padang rumput dengan background Gede-Pangrango. Bahkan sempat mencoba ‘shikat miring’ doyanan si Debby, tuh.


Mengabadikan Taman Sakura dan padang rumput berlatar Gede-Pangrango


Shikat miring~

Sudah mendekati pukul 6 sore, langit mulai menggelap, dan kami pun pamit dari Kebun Raya Cibodas sambil menenteng seplastik stroberi dari kebun stroberi mini di dekat Musholla. Ah, terus lupa deh mencari si bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas. Yah, belum jodoh memang.

Pulang dari Ngebolang


Langit yang mengantar pulang hari itu

Turun dari KRC kami kembali menggunakan angkot kuning sampai ke pertigaan Cibodas. Ongkosnya masih Rp3.000. Terus lanjut turun ke Terminal Baranangsiang dengan menggunakan angkot-ilegal, alias angkot yang beroperasi pada rute yang tidak seharusnya, dan setelah tawar menawar alot, cuma bayar Rp15.000. Sebenarnya tuh angkot beroperasinya harusnya di Bogor saja, eh mungkin tahu ada lahan duit di Cibodas karena masih musim liburan jadinya menyeleweng sejenak. Anyway, di angkot ini kami menikmati lampu-lampu yang bertebaran di jalan menurun dari puncak. Keren, kayak bumi yang bertaburan bintang. Sesampai di Terminal Baranangsiang, lanjut lagi dengan angkot 03 yang menuju Stasiun Bogor dengan ongkos Rp3.000. Di stasiun kami sempatin juga buat nyicipin soto di lapak sebelah stasiun. Ah, sedapnya makan bareng sebelum menyudahi seseruan hari itu…

Sampai jumpa di jalan-jalan TTM berikutnya!

_________________________
Tulisan jalan-jalan ke Cibodas ini juga dimuat di TED Wego Indonesia, sebagai salah satu tulisan semasa magang. Oiya, perjalanan ini sekilas terinsipirasi dari sini.

Advertisements