Catatan: Artikel ini bagian dari laporan trip JaBaGa 2013. Juga dimuat di TED Wego Indonesia, sebagai salah satu tulisan semasa magang.

__________________

“Ayo ke Parapat.”

2 Maret 2013. Papi sudah berjanji untuk mengantarkan saya ke Parapat, nama salah satu daerah wisata di pinggir Danau Toba. Semacam ritual yang akan dilakukan kalau saya sedang mampir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara. Kebetulan ada acara komunitas Tebing Tinggi di Hotel Niagara (baca: review hotel di TA), maka kami pun menginap di sana.

Kalau ditanya tentang keindahan Danau Toba, saya sudah tahu rasanya menjadi saksi mata mahakarya Sang Pencipta yang satu itu. Danau vulkanik terbesar se-Asia Tenggara ini tercipta dari letusan super volkano yang diperkirakan terjadi sekita 73.000-75.000 tahun yang lalu. Hasilnya? Danau dengan panjang 100 kilometer, lebar 30 kilometer dan kedalaman mencapai 505 meter.

Ada satu hal yang saya ingat dari kunjungan beberapa tahun lalu, ketika saya masih berseragam putih-biru. Saat itu, terbersit keinginan mengendarai jetski yang ditawarkan di pinggir danau untuk mengelilingi danau yang super luas ini. Pasti seru, pikir saya. Sombong sekali keinginan untuk ‘menaklukkan’ danau raksasa ini, padahal berenang saja masih megap-megap. Akhirnya diijinkan. Dengan catatan dibonceng papi yang mengemudi dari belakang saya. Saya dibawa ke tengah danau dengan kecepatan tinggi. Hantaman-hantaman jetski membuat air danau mengombak tinggi. Oh yeah! Darah saya terpacu keras oleh adrenalin.


Hamparan biru si Danau Toba

Begitu sampai di tengah danau di mana hampir sejauh pandangan mata hanya ada air dan bukit-bukit menjulang. Leher saya tercekat dan bulu kuduk saya mulai berdiri. Saya merasa terperangkap di dalam kemegahan alam. Mata mulai membeliak karena rasa takut mulai mengalahkan adrenalin. Saya mengingat hari itu sebagai momen saya terkagum- kagum, sekaligus takut akan kebesaran Sang Maha Kuasa. Bahkan saya masih bergidik bila mengingat sore itu.

Buru-buru saya minta papi kembali ke pinggir danau. Dengkul saya lemas membayangkan kalau saya sendiri saja di tengah-tengah danau dan… tenggelam. Ampun!


Pemandangan Danau Toba dari pinggir kolam renang di Hotel Niagara.. Wow banget kan!

Kunjungan kali ini, saya beserta para sepupu diberi kebebasan menjelajah Hotel Niagara. Saya akui pemandangan Danau Toba dari hotel itu sangat mengagumkan. Tampaknya pemilik hotel memilih lokasi yang bagus sekali untuk menikmati pemandangan Danau Toba dari kejauhan. Namun, pemandangan indah saja tidak cukup bagi saya, yang sejak 2010 darah berpetualangnya mulai bergejolak. Akhirnya, saya putuskan untuk berpetualang ke Pulau Samosir keesokan paginya. Dikarenakan besok siang sudah menuju Tebing Tinggi, maka saya hanya punya setengah hari untuk menjelajah pulau bak zamrud yang diapit safirnya Danau Toba

Hmm, cukup tidak ya?

Setengah Hari di Pulau Samosir

3 Maret 2013. Pagi buta, saya melangkah keluar dari hotel. Keluarga masih pulas, jadi saya bertualang sendirian. Hari masih sepi dan lebih banyak anjing yang keluyuran dibanding orang. Untung ga ada adegan saya dikejar-kejar anjing hehehe..

Untuk menyeberang ke Pulau Samosir, ada dua opsi. Pertama dari daerah Pantai Wisata Parapat yang lebih ramai, atau menyeberang dari Tigaraja. Saya memilih opsi terakhir karena menawarkan penyeberangan ke Tomok dan Tuk-Tuk. Karena sudah pernah ke Tomok, maka saya menyeberang ke Tuk-Tuk kali ini. Dibanding Pantai Wisata Parapat, Tigaraja tidak terlalu strategis untuk turis karena letaknya di belakang pasar tradisional, kendaraan umum menuju ke Tigaraja ada sih, tapi jarang. Mumpung agenda saya jalan-jalan, maka saya pun berjalan dari Hotel Niagara ke Tigaraja. Lumayan sambil menikmati hiruk pikuk pagi hari di kota pinggir danau itu.


Menyeberang dari Tigaraja..

“Di Tuk-Tuk tidak ada apa-apa,” begitu celetukan penduduk setempat ketika mendengar niatan saya untuk pelesir ke Tuk-Tuk. “Cuma ada penginapan saja. Mending ke Tomok, bisa belanja-belanja.”

Saya tak-acuhkan celetukan tersebut karena pernah berkunjung ke Tomok, jadi saya mantapkan niat untuk ke Tuk-Tuk. Menyeberang dari Tigaraja ke Tuk-Tuk memakan waktu lebih kurang 30 menit, dengan ongkos Rp5.000 Maret 2013 silam (harga mungkin sudah berubah sekarang).

Hari itu hanya ada saya dan satu orang asing asal Belanda yang menyeberang ke Tuk-Tuk. Ooms, namanya, sedang mampir ke Indonesia untuk jalan-jalan sambil mengamati Indonesia untuk studi S2 Antropologi-nya. Sejak Januari silam ia singgah di Indonesia dan akan pulang ke negri Kincir Angin ketika April tiba. Ooms sempat belajar Bahasa Indonesia di Jogjakarta selama 3 minggu, hasilnya kita berdua sempat bercakap dalam Bahasa Indonesia, walaupun beberapa kali dia keliru dalam pemilihan diksi.

Mendarat di Tuk-Tuk, langsung terasa bedanya dengan Tomok yang begitu kapal menepi maka pengunjung disambut dengan keramaian khas daerah wisata. Penjaja cinderamata berseliweran, kemudian di area dermaga berjejer kios cinderamata. Tuk-Tuk justru sebaliknya. Kapal menepi tepat di pinggir penginapan yang bernama Carolina Cottages.


Mendarat di Tuk-Tuk..

Takheran rasanya bila wisatawan asing yang berkunjung ke Danau Toba cenderung memilih menginap di Tuk-Tuk. Suasananya lebih tenang dengan penginapan bertampilan tradisional di pinggir danau. Semburat hijau mangrove menghias tepi danau, menambahkan rasa sejuk. Saya bayangkan tidur di salah satu penginapan tersebut untuk bangun di pagi hari, menghirup udara segar, dan menikmati birunya Danau Toba. Pasti asyik mengalami pagi seperti itu di Tuk-tuk.

Pelan-pelan saya resapi suasana di Tuk-Tuk sambil melanjutkan langkah kaki. Ada satu alasan saya memilih ke Tuk-Tuk, yaitu untuk sarapan di sebuah kafe bernama Juwita sambil memanja mata dengan si danau biru. Baca-baca review dari sesama pejalan di TripAdvisor, dijamin bisa menikmati makanan enak, servis oke, dan pemandangan superb di Juwita’s Cafe.

Ternyata saya kepagian, Juwita bahkan baru menggeliat bangun. Stafnya ramah-ramah dan mempersilahkan saya menjadi pengunjung pertama mereka. Langsung saya daki teras teratasnya, mengikuti rekomendasi dari TripAdvisor. Saya berhati-hati melangkah karena tangga batunya yang licin berlumut. Begitu sampai di atas, wow! Danau Toba terhampar di depan mata. Pagi jelang siang itu, sepiring nasi goreng spesial dan sepotong ayam adalah teman saya memandangi keagungan Danau Toba. Harga yang dipatok Juwita standar dengan harga kafe pada umumnya. Makanannya pun enak di lidah. Pantas saja tempat ini direkomendasikan.


Sarapan kesiangan dengan menu Nasi Goreng Spesial di Juwita’s Cafe.

Selesai dengan brunch, tampaknya tidak terlalu banyak yang bisa dilakukan lagi di Tuk-Tuk dalam waktu singkat. Apalagi modal saya hanya kaki yang melangkah. Saya putuskan untuk naik ojek ke Tomok. Ongkosnya berkisar IDR 20.000, ditawar saja. Sepanjang jalan dari Tuk-Tuk menuju Tomok, tak berhenti mata saya melahap pemandangan hijau di sisi kanan dengan bukit-bukit menjulang dan sapi yang mejeng di padang rumput. Sedang di sisi kiri, terlihat perkampungan nelayan dan birunya Danau Toba.


Cantiknya lanskap dari Tuk-Tuk menuju Tomok.

Supir ojek menyarankan, bila berkunjung lebih lama lebih baik saya menyewa motor biar bisa lebih puas menjelajahi Samosir. Menurut dia masih banyak potensi alam yang belum dikembangkan di Samosir. Misalnya saja wisata air terjun ke Air Terjun Simangande di dekat pertigaan Tuktuk-Ambarita, Air Terjun Efrata di Desa Sosor Dolok Kabupaten Harian, dan Air Terjun Pangaribuan di Kecamatan Palipi.

Waduh, lain kali harus mampir lebih lama, nih, gerutu saya dalam hati.


Menonton Sigale-gale

Setelah 15 menit melewati jalanan yang berliku, saya tiba di pusat keramaian wisata di Desa Tomok. Seperti yang saya bayangkan, terdapat kios-kios yang menawarkan cinderamata bertuliskan Lake Toba. Pakaian, aksesoris, dan dekorasi, lengkap tersedia disana. Cukup ramai juga suasana di Desa Tomok saat itu. Hilir mudik para wisatawan terjadi dalam kejapan mata. Perlahan namun pasti saya menyusup di antara kerumunan di jalanan yang menanjak. Sejenak langkah saya terhenti ketika melihat boneka Sigale-gale yang menari-nari, tapi segera beranjak. Kali ini target saya menikmati pemandangan Danau Toba dari Makam Raja Sidabutar, yang dulunya menguasai daerah Tomok dan sekitarnya.

Ketika sedang asyik menatap si biru, saya disapa oleh Pak Situmorang. Bapak yang berusia lebih dari 70 tahun ini dan bapak satu lagi yang saya lupa namanya adalah warga Tomok yang menunggui Makam Raja Sidabutar. Mereka murah senyum dan ramah. Percakapan dan senda gurau mengalir dengan mereka. Diceritakanlah pada saya tentang kisah di balik simbol yang terpajang banyak di bangunan-bangunan di Tomok, yaitu pahatan berbentuk payudara dan cicak.


Mejeng bersama penunggu Makam Raja Sidabutar.

Menurut cerita Pak Situmorang, gambar payudara bermakna bahwa pria Batak menyukai wanita yang subur untuk melanjutkan garis keturunan patriarki yang lekat di dalam adat Batak. Salah dua ciri kesuburan wanita yang dipercayai di sana adalah yang memiliki pinggul dan buah dada besar. Kata Tomok, katanya, memiliki makna yang sama dengan ‘semok’ atau ‘montok’. Sedangkan simbol berbentuk cicak dimaksudkan agar orang Batak bisa hidup seperti cicak, mampu bertahan hidup di manapun ia berada. Hmm, mungkin itu salah satu alasan banyak orang Batak yang sukses di perantauan?

Tidak terasa matahari sudah tinggi di atas kepala, papi sudah menelepon dan menanyakan keberadaan saya. Ah, tiba waktu untuk mengucapkan sampai jumpa. Setengah hari menjelajah Samosir jelas tidak cukup. Pokoknya lain kali saya kembali, bakal lebih dari setengah hari!


Dermaga di pinggiran Tomok

Untuk perjalanan pulang saya memilih naik kapal dari Tomok kembali ke Tigaraja. Bisa saja menyewa speedboat, tapi buat apa? Saya toh bertualang sendirian kali ini. Perjalanan saya berakhir ketika kapal merapat di pinggir dermaga Tigaraja dan kami, para tamu di Danau Toba, disambut bocah-bocah penyelam koin.


“Bu lempar uangnya, bu..”

Advertisements