Kalau di makalah, bagian ini disebut Kata Pengantar *uhuk*
Jadi kebetulan sekali saya dapat kesempatan untuk main menghadiri acara bertajuk ‘Borobudur Writers and Cultural Festival 2013’ dari tanggal 17-20 Oktober yang berlangsung di Jogjakarta dan Borobudur. Erh, akan saya buat laporannya kalau saya tidak sedang malas atau dikejar-kejar deadline tugas (curcol detected, ahem).

Kebetulan dalam perjalanan saya menuju ke Jogja, tanggal 16 Oktober 2013 dengan kereta ekonomi AC Bogowonto, saya duduk bersebelahan dengan Mas Tampil (betul, namanya Tampil!). Kebetulan Mas Tampil ini adalah alumnus UI, dulunya mahasiswa Arkeologi, sempat menjadi aktivis Reformasi 1998, dan sudah lulus dari pasca-sarjana kekhususan Museologi 2010 silam (mas, cmiiw! xD).

Sambil mengobrol, diketahuilah bahwa Mas Tampil adalah pengurus Museum Sandi di Yogyakarta. Saya langsung merasa berjodoh dengan museum tahun ini hehehe. Akhirnya sebagian besar perjalanan kami habiskan untuk mengobrol tentang museum, saya melontarkan banyak pertanyaan dan protes saya tentang museum, dan Mas Tampil selalu menanggapi saya dengan ramah. Mas Tampil kemudian mengundang saya untuk mengunjungi Museum Sandi dan melihat-lihat apakah cap yang saya berikan pada museum (dingin, angker, kurang bersahabat) ada di museum tersebut.

Ini laporan saya.

Kode-Kode-an di Museum Sandi


Selamat datang!

Saat itu saya datang sedikit kepagian, alhasil ngobrol dulu sama mas-mas yang jagain.. Lagi asyik menggosip, Mas Tampil ternyata ada di tempat, jadi dia sejenak memandu keliling museum, padahal lagi ditungguin buat ikut pelatihan hehehe.. Terima kasih loh mas!


Mas Tampil mengajarkan cara mengirim sandi dengan metode Skytale Greek


Skytale Greek adalah metode yang digunakan orang Yunani pada 486 SM untuk mengirimkan pesan rahasia. Pesan ditulis pada kain panjang yang dililit pada sebuah batang. Kalau ga tau diameter batangnya, dijamin pesannya susah kebaca!

Setelah mendapat sedikit pengantar dari Mas Tampil, saya ditinggal sendiri. Saya keliling saja sendirian dalam museum sandi, sambil mencoba semua permainan yang disediakan via panel layar sentuh. Kumpulan mainan itu namanya Crypto Games.

Fitur interaktif ini isinya berbagai kuis yang berhubungan dengan pemecahan sandi. Kuis-kuisnya mengasah otak dan bisa dimainkan untuk segala usia. Saya sendiri ketagihan dengan ‘Crypto Quiz’ yang dibuat mirip Who wants to be a millionaire? Untuk bisa menjawab beberapa pertanyaan kuisnya, saya sampai lari-lari keliling museum. Untungnya saya pengunjung satu-satunya jadi tidak mengganggu siapapun. Seru, loh!


Ngaku jago tentang persandian? Cobain dulu gamesnya!

Museum Sandi ini dikelola oleh Lembaga Sandi Negara. Tujuannya agar pengunjungnya bisa mengenal sejarah kriptologi dunia dan Indonesia. Apa itu kriptologi? Ia berasal dari dua kata dalam Bahasa Latin, yaitu ‘kriptos’, yang artinya tersembunyi atau rahasia, dan ‘logos’ yang berarti ilmu—jadi kriptologi adalah ilmu yang mempelajari semua aspek dari tulisan-tulisan atau kode yang sengaja di-’rahasia’-kan. Untuk itu, di museum yang berbentuk bangunan lingkaran ini juga dipajang instrumen pendukung persandian seperti mesin-mesin sandi, manequin dengan wig, sampai kentongan!


Teknik tato di kulit kepala yang kemudian disembunyikan dengan rambut yang sudah tumbuh kembali. Teknik ini digunakan pada abad 6 SM.

Terus, terus ya, di museum inilah saya tahu bahwa Pak Nachrowi Ramli yang dulu pasangan Foke untuk PilGub DKI Jakarta, pernah menjabat Kepala Lembaga Sandi Negara periode 2002-2008!


Nah, kalo ini sih Bapak Sandi Indonesia dan pesannya.

Selain informasi tentang dunia persandian, di museum ini pengunjung juga bisa loh belajar beberapa cara sederhana membuat pesan rahasia yang sudah dipraktekkan sejak masa sebelum masehi! Asyik kan, mana tau bisa dipraktekkan kelak. 😀

Museum Sandi buka setiap hari pukul 09.00-16.00 WIB. Letaknya di dalam gedung Museum Perjuangan, alamatnya di Jalan Kolonel Sugiono No. 24. Yap betul, jadi di dalam satu gedung ini ada dua museum, masing-masing hanya satu lantai. Ke sana bisa dengan TransJogja kode 2A, kemudian turun di halte Pojok Benteng Wetan plus sedikit berjalan kaki.


Museum Perjuangan tampak luar dan Museum Sandi tampak dalam.

Ga hanya akses yang mudah, museum ini juga tanpa HTM loh, plus ada pemandu yang siap ditanya-tanya. Yuk mampir ke museum kalo begitu. 😉

Advertisements