Bulan lalu, tepatnya pada tanggal 23 Februari 2014, saya berkesempatan ngebolang di Banjarmasin. Walau praktisnya hanya punya satu hari untuk mengucapkan salam, saya mendapat kesempatan untuk melongok dan belajar dari kota yang identik dengan sungai, pasar terapung, soto banjar dan intan ini.

pumpung-1e
Suasana salah satu pertambangan di Pumpung. Bak-bak dibawah pipa itu menampung pasir hasil penambangan untuk nantinya dijual.

Desa Pumpung adalah tempat terakhir yang saya kunjungi dari perjalanan satu hari saya. Awalnya tidak ada rencana untuk mengunjungi desa ini, kalau bukan karena petunjuk dari Pak Bahri dan Pak Gatot, dua orang petugas Museum Lambung Mangkurat. Mereka berdua memberitahu saya bahwa ada lokasi penambangan intan yang bisa saya kunjungi, yaitu Desa Pumpung. Lokasinya tidak seberapa jauh dari museum, sekitar 12km, atau 20-30 menit naik motor dengan kecepatan santai. Klik untuk lihat peta yang digambar Pak Bahri. Letak Desa Pumpung berada di kiri jalan, dengan papan penanda yang kalau mata tidak awas bisa kelewatan.

Hari itu gerimis setia membasahi Kota Banjarbaru, tempat Museum Lambung Mangkurat dan Desa Pumpung berada. Saya sebenarnya ragu untuk berkunjung ke Desa Pumpung ini, karena hari sudah mulai sore dan diwanti-wanti kemungkinan tidak adanya aktivitas penambangan karena hujan. Ya, namun bukan saya namanya kalau tidak mencoba dulu. Kapan lagi saya bisa ke melihat langsung tempat penambangan intan? Dengan modal jas hujan plastik murahan warna hijau neon gonjreng dan motor sewaan, saya pun berangkat menuju Desa Pumpung dari Museum Lambung Mangkurat. Dan, saya beruntung hari itu masih ada aktivitas penambangan intan yang berlangsung.

pumpung-1a
Salah satu tempat tambang intan di Desa Wisata Pumpung. Di sini tambangnya sudah modern karena menggunakan mesin. Walaupun kalau dilihat kondisinya tetap seadanya.

Kedatangan saya mengundang perhatian para pedagang intan yang dengan cepat mengejar saya ke daerah penambangan. Dengan ramah mereka menghampiri dan memandu saya di daerah penambangan. Bapak-bapak yang bekerja di sana pun menyambut saya dengan tangan terbuka. Mereka menyisihkan waktu bekerja mereka untuk menyapa dan foto bareng, bahkan saya diberi bongkahan batu (yang belum diasah tentu saja) sebagai kenang-kenangan. Mungkin di lain kali kesempatan saya bisa mampir ke lokasi industri rumahan (Pak Gatot menyebutnya lokasi Home Industry) yang ada di Martapura untuk mengasah batunya.

pumpung-1d
Berpose dengan bapak-bapak penambang intan dan emas yang ramah-ramah dan heboh!

Bapak-bapak ini adalah pekerja tambangnya. Mereka bekerja dalam satu tim. Mencari sebutir intan bukan perihal yang mudah. Tidak tiap hari mereka bisa menemukan sebutir intan. Namun, harapan untuk menemukan sebongkah intan yang bisa membuat mereka kaya raya mendadak membuat mereka bertahan kerja di penambangan intan.

pumpung-1f
Bapak yang di atas menyerok material yang tersisa di pipa ke dalam alat lenggang, yang nantinya akan dibawah ke sungai untuk dilenggang atau didulang.

Tak bisa hanya bergantung pada intan yang belum tentu ketemu, karena itu yang menjadi pendapatan para penambang selain intan adalah serbuk emas yang menempel di pipa-pipa yang mengalirkan air dan pasir hasil pengeboran. Serbuk emas dan pasir inilah yang menjadi pendapatan sekunder mereka nantinya. Tentu saja hasilnya dibagi sama rata untuk semua anggota tim.

pumpung-1b
Melenggang intan. Ini bukan proses yang mudah, mata pendulangnya harus sangat jeli karena ukuran sebutir intan bisa sangat kecil, bahkan lebih kecil daripada ujung bolpoin!

Sekitar 10.000-20.000 rupiah mereka bawa pulang setiap harinya, setelah bekerja dari pukul 9 pagi sampai sore. Sepanjang minggu, kecuali pada hari Jumat, yang tampaknya disisihkan untuk beribadah sholat. Wilayah penambangan yang saya datangi ini adalah milik seorang juragan–pemilik tanah yang ditambang. Ia akan memfasilitasi para penambang dengan mesin dan solar. Seharinya bisa menghabiskan sekitar 500.000 rupiah untuk operasional penambangan. Oleh karena itu, juragan tanah ini mendapat 15-20% dari tiap hasil penjualan intan. Setidaknya itulah yang diceritakan pada saya oleh bapak pedagang intan yang memandu saya selama di sana.

pumpung-1c
Nyobain melenggang. Lenggangannya terbuat dari kayu dan berat!

Sore semakin menjelang dan saya pun segera berpamitan dengan bapak-bapak yang masih giat menambang intan. Sebelum pulang, para pedagang intan mulai melancarkan jurus-jurus dagang mereka. Dari perhiasan seperti cincin, batu berharga sampai butiran intan yang ukurannya super kecil (4 butir seharga 150.000 rupiah!) ditawarkan pada saya. Awalnya tidak berniat membeli apapun, namun kebaikan dan keramahan bapak-bapak tersebut membuat saya luluh. Alhasil setelah tawar menawar, saya membeli cincin berbatu kristal untuk sang mami.

Terima kasih, pak! Semoga rejeki bapak-bapak lancar dan intannya segera ketemu!

Catatan kaki:

  • alat lenggang disebut juga alat linggang, jadi bisa juga ditulis melenggang atau melinggang.
  • terima kasih banyak buat bandit U-maku Eisa Shinka yang sudah rela saya tebengin. Juga Nunuy-sensei yang sudah saya repotkan. Tanpa kalian saya tidak akan sampai ke Banjarmasin.
  • terima kasih juga pada Pak Bahri dan Pak Gatot yang sudah memberikan saran untuk berkunjung ke Pumpung.
  • teman-teman yang butuh pemandu atau hotel saat berkunjung ke Banjarmasin, mungkin bisa menghubungi Pak Gatot via email berikut keysborneo[@]gmail[.]com (hilangkan kurung siku).
Advertisements