khasbanjar-1f
Highlight: Jengkol dan Tailala, Kakicak dan Inti, Sate Bulus, Soto Banjar, Bakso Pentol

Bulan lalu saya mampir ke Banjarmasin. Tentu di sana saya tidak akan melewatkan salah satu kegiatan favorit saya: icip kuliner. Berikut laporan hasil petualangan kuliner saya di kota penghasil intan itu.

Jengkol dan Tailala


Saya suka jengkol, makanya begitu ketemu jengkol di Pasar Terapung dermaga Sabilal pagi itu, saya pun langsung terpanggil untuk membelinya. Jengkolnya sudah direbus, tampaknya tanpa tambahan bumbu karena kalau dimakan langsung rasanya hambar, walaupun aromanya tetap menggelora.

Tapi, jengkol hambar itu sangat tidak menggairahkan. Oleh karena itu harus dicocol dengan sejenis saos yang namanya Tailala, yang berbahan dasar kelapa. Melihat warna saosnya seperti di gambar atas, saya sempat ragu untuk mencicip. Tapi, ternyata enak! Saos cocol ini rasanya gurih, manis asin. Nah, baru pas deh rasanya. Sedap dan bau-bau khas jengkol gitu jadinya. Fakta yang bikin saya kaget adalah, di Banjarmasin jengkol itu semacam cemilan. Wow, padahal saya suka merasa seorang pemakan jengkol kelas hardcore, ternyata masih kelas teri.

Kakicak dan Inti

khasbanjar-1b
Kakicak ini sejenis kue basah. Rasanya menurut saya mirip dengan kue lapis beras. Manis dan basah. Makannya biar lebih menggoyang lidah baiknya ditambah dengan inti, yaitu parutan kelapa yang sudah diolah dengan gula jawa. Rasanya manis-manis enak, deh. Saya belinya juga di Pasar Terapung dermaga Sabilal. Oh, terima kasih banyak untuk Ichi yang sudah mengantar dan menemani saya pagi-pagi ke pasar terapung ini, owe you one!

Sate Bulus

khasbanjar-1c
Jujur saya tidak tahu ada hewan yang namanya bulus sampai saya melihat plang nama sebuah rumah makan yang menawarkan sate bulus dan sate buaya. Dari Google dan Wikipedia, saya tahunya bulus adalah hewan sejenis labi-labi yang hidup di air tawar.

Saking penasaran, saya akhirnya memberanikan diri mencoba sate bulus di Depot Nikmat yang terletak di Jalan Veteran, dekat dengan Toa Pe Kong Soe Tji Nurani. Harganya 6.000 rupiah per tusuk, sedang untuk sate buaya dihargai per tusuk 8.000 rupiah. Sayang sate buaya stoknya habis. Kata penjualnya, pasokan daging buaya sudah sebulan lebih tidak ada. Mungkin buayanya sedang sembunyi. Selain sate, ada ca bulus atau sop bulus juga yang seporsinya seharga 60.000 rupiah.

Kalau pada umumnya sate disajikan dengan bumbu kuah kacang atau kecap, sate bulus disajikan dengan saos tomat yang dioseng dengan minyak. Rasanya sih asam manis seperti saos tomat, walau sedikit beda dengan rasa saos tomat botolan. Daging bulus sendiri lebih liat daripada daging sapi yang lebih berserat. Rasanya enak, dan sedikit berlemak. Konon, daging bulus dipercaya memiliki khasiat untuk menambah stamina, dan berbagai khasiat lain. Saking sering diburu untuk dikonsumsi, menurut Wikipedia status konservasi bulus saat ini adalah hewan rentan atau VU (vulnerable), atau dengan kata lain bisa jadi dalam perjalanan menuju kepunahan. Waduh, gawat juga ya. Semoga bulus bisa diternakkan.

Soto Banjar

khasbanjar-1d
Soto itu layaknya salah satu makanan Indonesia terfavorit saya, oleh karena itu sudah jauh-jauh ke Banjarmasin masa tidak mencoba soto khas Banjar? Yang direkomendasikan adalah Soto Banjar Bang Amat di Jalan Banua Anyar, sekitar 200-300 meter dari bahwa jembatan layang. Namun rupanya saya kurang berjodoh dengan Bang Amat, begitu sampai, saya disambut dengan plang bertuliskan “tutup”. Tentu saya tak patah arang dan mencoba soto banjar di warung ko Hendra di Jalan Veteran.

Yang membuat rasa soto banjar khas adalah kuahnya yang bening dengan rasa yang segar, ditambah sejenis bihun, potongan telor rebus, dan suwiran atau potongan paha ayam. Ditambah dengan taburan seledri dan bawang goreng, serta perasan jeruk nipis, wuih, segarnya rasa soto banjar beda dengan soto bening yang pernah saya makan. Lebih sedap dan ringan di lidah!

Bakso Pentol

Bakso pentol tampaknya menjadi jajanan favorit urang Banjar. Hampir di sepanjang perjalanan saya di dalam kota Banjarmasin, saya melihat penjual bakso pentol dengan para langganan yang bergerombol di dekatnya. Bakso pentol sendiri maksudnya ya bakso tusuk dengan isian bisa baso keju, urat, dan macam-macam. Kalau dulu di Surabaya saya mengenalnya dengan nama pentolan. Rasanya, ya seperti bakso, hanya saja makannya dicocol dengan saos tomat atau saos sambal, tergantung selera.

Bonus: Papaken

khasbanjar-1e
Yang satu ini sih memang bukan kuliner, tapi buah khas Banjarmasin yang dikenal dengan sebutan Papaken (mengejanya “papa” seperti biasa dan “ken” dari Ken Zhu). Dalam Bahasa Indonesia disebut Lai. Masih satu keluarga dengan durian, tapi ukurannya lebih mungil, dengan duri lebih lembut, dan daging buah yang warnanya kuning sampai keorenan.

Halaman Lai di Wikipedia menyebutkan kalau buah ini juga dikenal dengan nama durian kuning, durian tinggang, durian pulu, nyekak, ruas, sekawi, pekawai dan lain-lain. Masih dari sumber yang sama, nama ilmiah dari Papaken adalah Durio kutejensis. Maksud dari kutejensis adalah ia berasal dari Kutei. Rasanya tidak selegit durian, harum buahnya pun sedikit berbeda, tidak setajam durian biasa.

Kalau ditanya, suka atau tidak, saya sih suka rasanya. Tapi kalau ditanya suka mana dengan durian, saya lebih suka durian, apalagi durian kumpeh.

Demikianlah berakhir petualangan kuliner sedap saya di Banjarmasin. Semoga nanti bisa balik lagi dan melakukan petualangan kuliner bagian dua!

Advertisements