Akhir-akhir ini, saya bergumul dengan perasaan yang haus untuk berada dalam kegelapan yang pekat.

Momen-momen saya ingin menarik diri dan sejenak beristirahat dalam kesunyian semakin sering terjadi. Perasaan ini membawa ingatan saya pada perjalanan tahun lalu di Australia Barat; mengingatkan saya pada satu fanfiction yang ditulis seorang anonim yang saya kagumi, dan sekarang entah berada di jagat maya mana karena sudah tidak terlacak lagi; dan pula mengingatkan saya pada penulis yang ia kagumi dan sampaikan melalui tulisannya, Rumi. Perasaan melankolis ini membawa saya pada tulisan saya yang tayang di laman Wego Indonesia.

Delapan hari menjelajah tempat-tempat terbaik yang ditawarkan Australia Barat, dari menyusur lautan untuk menyapa paus bungkuk sampai menyaksikan sendiri langit kelam bertaburan bintang di situs kemping Conto–tapi siapa sangka hati saya justru tertambat di Giants Cave? Ya, hati ini ketinggalan di dalam gelapnya Ballroom, nama dari ruang seluas 70 meter persegi di dalam perut gua raksasa ini.


Bibir Gua Giants

Pagi itu di situs kemping Conto, 20 kilometer ke selatan dari Margaret River, hari dimulai dengan cukup sendu. Setelah hampir seminggu diwarnai dengan birunya langit, kali itu pagi dimulai dengan awan mendung yang bergelayut. Hujan deras pun sempat mengguyur, membuat suhu udara turun dengan drastis hingga jari-jari ini kaku dengan dingin! Brr!

Jadwal perjalanan hari itu adalah menyusuri gua, atau caving. Setelah melahap sarapan dan membereskan barang-barang, tim #ExtraordinaryTrip langsung berangkat menuju Giants Cave yang tidak jauh lagi dari tempat kemping. Ia terletak di kawasan Hutan Boranup, dekat Witchcliffe. Gua raksasa ini terdiri dari batu granit dan limestone dan dengan panjang 575 meter dan kedalaman 86 meter ia diberi gelar sebagai gua terbesar dan terdalam yang ada di Leeuwin-Naturaliste Ridge.


Pohon Karri yang tumbuh di atas runtuhan langit gua di depan Giants Cave

Sekitar 15 menit berkendara, kami pun sampai di kawasan Giants Cave. Sebelum memulai kegiatan, oleh pemandu gua kami diberikan sekilas pengantar tentang eksistensi gua tersebut, hal-hal seperti asal mula ditemukan dan terbentuknya gua Giants. Tak lupa ia memastikan seluruh peserta caving atau wisata jelajah gua mengenakan standar prosedur keselamatan selama perjalanan berlangsung: helm dan senter.

Perjalanan menyusur gua dimulai setelah pemandu membuka gerbang menuju mulut gua. Ada dua buah mulut gua yang terlihat. Dulunya mereka adalah satu gua yang sama. Karena suatu peristiwa geologis di masa lalu, langit-langit gua runtuh dan menyisakan sebuah ruang terbuka dan memberi bukaan pada gua yang kemudian dinamai Giants.

Udara dingin dan lembab segera menyapa begitu kami memasuki gua. Stalaktit dan stalagmit berbagai ukuran dan wujud menghias langit dan lantai gua. Uniknya stalaktit yang berada di bibir gua tidak menghadap lurus ke bawah, malah sedikit melengkung dan condong ke arah luar. Pemandu menjelaskan bahwa hal itu terjadi secara alamiah. Alasannya adalah bahwa sisi yang condong tersebut terpapar suhu yang berbeda dari sisi yang menghadap dalam gua, sehingga mengendap terlebih dahulu. Oh, begitu.


Untaian stalaktit

Sepanjang penyusuran, sang pemandu yang bernama Andrew kerap bercerita mengenai asal-usul stalaktit dan stalagmit. Tak lama berselang dari bibir gua, kami pun tiba di Ballroom. Anehnya, lantai dari Ballroom ini merupakan pasir-pasir berwarna gelap. Pasir di dalam gua? Kok bisa? Andrew pun menceritakan asal muasalnya, juga tak lupa menunjukkan bahwa ternyata bila digali sedikit, terdapat pasir putih di bawah pasir-pasir gelap ini.

Proses alam yang terjadi di Giants Cave ini menarik, pikir saya. Kemudian Andrew yang mempersilahkan kami duduk di atas pasir meminta kami untuk mematikan semua senter. “Just for a minute, turns all lights off.

Tanpa ada cahaya sama sekali, ruang di dalam perut bumi ini gelap gulita, gelap yang pekat. Setiap kedipan mata hanya ada gelap. Tak ada bedanya dengan ketika menutup mata. Detak jantung saya seketika mulai berpacu cepat, darah saya berdesir dan perlahan telinga berdenging. Hening. Senyap. Di kepala saya berkecamuk banyak hal, namun pada saat yang sama saya menyadari sejelas kristal, apa yang dialami tubuh saya. Udara dingin yang menyelimuti tiap jengkal kulit, pasir-pasir di ujung jemari. Dalam kegelapan ini, tiba-tiba saja saya menjadi hipersensitif terhadap eksistensi saya.

Kemudian gelap dan sunyi itu berlalu, seiring satu per satu senter dinyalakan dan suara-suara yang bercakap terdengar. Wah. Sungguh pengalaman yang menggetarkan jiwa saya. Akhirnya saya mengalami sendiri kisah tokoh yang ditulis oleh penulis favorit saya. Sekelebat terlintas pula di kepala saya sepenggal puisi dari Rumi yang menjadi inspirasi penulis tersebut.

Darkness is your candle.
Your boundaries are your quest.

Ah, gelap pekat, ke mana aku harus mencarimu di sini yang hingar bingar, yang gelap malam pun tidak membantu? Ya, mungkin harus kumulai malam-malam tanpa sinar dari layar monitor.

Advertisements