Suatu senja di akhir November, motor kami menderu membelah lapangan kosong yang diimprovisasi menjadi lapangan sepak bola sementara.

Sudah beberapa hari saya berada di Lasem, Jawa Tengah, menemani teman melakukan liputannya. Namun sore itu kami sedang tanpa tujuan, hingga tercetus ide untuk menikmati legen di rumah pembuatnya. Legen ialah minuman tradisional yang diproses dari sadapan tandan bunga jantan pohon siwalan–daerah lain di Jawa mungkin mengenal minuman ini dengan nama badeg. Pohon siwalan, atau yang juga dikenal sebagai pohon lontar, berbeda dengan pohon aren, walaupun nira yang dihasilkan sekilas terasa sama.

Di lapangan yang berwarna merah tanah liat ini terlihat truk yang parkir berjejer. Lapangan ini dikenal dengan sebutan parkiran Mahbang, yang berada di Ledok, Lasem. Di ujung lapangan terlihat pemukiman penduduk. Saya menghentikan motor sebelum mencapai pemukiman, tepat di depan rumah berpagar bambu, di sisi kanan lapangan kalau dari arah datang. Teman turun dan menanyakan keberadaan seseorang. Lalu kami kembali memacu motor, kali ini menyeberang lapangan menuju hutan di sisi lain.

Pak Januri, orang yang kami cari, bisa disebut sebagai satu-satunya penyadap nira siwalan dan pembuat legen di daerahnya. Ia tengah mengambil nira. Dalam sehari, dua kali ia mengumpulkan bumbung bambu yang sudah berisikan nira, yaitu kala pagi dan sore hari. Untuk menikmati legen segar Pak Januri pun hanya bisa di dua waktu itu.

Kami berhenti di bibir hutan. Pohon siwalan menjulang tinggi di atas kepala. Beberapa bumbung bambu diikat dan menggantung di sebuah pohon. Teman saya memanggil-manggil Pak Januri, yang menyahut dari atas pohon. Saya melihat betapa cekatan tubuh ramping pria paruh baya tersebut bergerak di atas pohon, menyiapkan bumbung bambu yang akan menampung nira sepanjang malam, untuk diambil keesokan harinya.

This slideshow requires JavaScript.

Kemudian, hanya mengandalkan karet vanbelt sebagai alat bantu pegangan dan memanfaatkan pijakan kaki yang sudah dibuat sebelumnya, dengan sigap Pak Januri menuruni pohon siwalan. Saya melihat sebilah pisau belati diselipkan di seutas tali yang menjadi sabuk di pinggangnya. Belati itulah yang digunakan untuk melukai mayang sehingga mengeluarkan nira.

Turun dari pohon, Pak Januri menghampiri kami. Ia bercerita bahwa menikmati legen hanya bisa dilakukan ketika musim hujan belum tiba, karena pada musim hujan nira yang dihasilkan tidak optimal. Maka ketika musim hujan tiba, ia harus mencari kegiatan lain. Malam semakin menjelang. Kami sepakat untuk melanjutkan obrolan di rumah Pak Januri–sembari taksabar untuk segera menikmati legen.

Sesampai di rumah, Pak Januri menyaring nira dari batang-batang bambu ke dalam baskom, kemudian ia tambahkan cairan seperti susu. Jatu, kata Pak Januri menjelaskan, yaitu cairan dari gamping atau batu kapur untuk menambah rasa manis pada nira.

This slideshow requires JavaScript.

Legen disajikan dalam gelas bambu yang dibuat sendiri oleh Pak Januri. Tak lupa sebelum disajikan, ia membuat saringan alami dari daun kalak. Juga untuk menambah kelegitan rasa legen, jelasnya sambil tersenyum ketika saya bertanya. Kiranya ini adalah cara khusus penyajian legen di Lasem. Atau mungkin legen a la Pak Januri?

legen-9

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memberikan sentuhan oranye dramatis di langit yang perlahan menggelap. Kami duduk di teras rumah dan menyesap legitnya legen Pak Januri. Sedap!

Tulisan ini mengawali seri #LasemUnfolded, yaitu kumpulan tulisan perjalanan tentang Lasem yang saya jumpai dan rasakan. Terima kasih Mba Agi yang sudah mengajak, lagi dan lagi, untuk mampir ke kota yang membuat jatuh hati ini.

Advertisements