Sabtu petang itu saya dan teman menuju Cikini menggunakan kereta. Tujuannya jelas: menuju Markobar, warung martabak milik anak presiden yang sedang menjabat.

Anak sulung Joko Widodo, Gibran Rakabuming Raka, terkenal sebagai pengusaha muda berbakat, terutama di bidang kuliner–dimulai dari usaha katering bernama Chilli Pari, sampai jualan “martabak kampungan (menurut bu dosen)” Markobar, juga usaha mitraan ceker ayam pedas yang bernama “Cakar Dheer.” Gibran bahkan didaulat sebagai Marketeer of the Year 2015 termuda menurut ajang Astra Indonesia Marketeers Festival 2015 di Solo. Pengusaha muda berbakat dan berprestasi. Ini hebat, menurut saya. Karena sesusah-susahnya usaha, adalah yang dimulai sendiri, dari bawah pula.

markobar1
Suasana Markobar Cabang Cikini kala akhir minggu.

Kembali pada cerita Markobar. Begitu sampai di lokasi, ternyata situasi sudah ramai. Saya sih maklum. Markobar lagi naik daun. Awal 2016 ini, di berbagai media sosial Markobar nyaring dibicarakan netizen dan media daring Indonesia. Konon, semua bermula dari cuitan akun @Chilli_Pari (“lagi hunting kecebong ya?“), kepada akun Twitter sang adik, @kaesangp, dan ayahanda @jokowi, perihal foto matahari pagi pertama 2016 mereka di dermaga Pantai Waiwo, Raja Ampat, Papua. Sontak cuitan ini menjadi ramai, kemudian sahut-cuitan terjadi, dan di sela-sela kegaduhan kecebong dan anti kecebong, nama Markobar mencuat.

Viralnya pembicaraan di media sosial senantiasa memberi dampak dalam kehidupan nyata, terutama di kawasan yang terjangkau internet dan alayers di Indonesia. Seperti foto selfie di tengah hamparan bunga amarilis yang viral di media sosial, dan menuai kehadiran para selfikers garis keras (dengan semboyan: rusak ga rusak yang penting selfie!) untuk berswafoto pula di sana. Begitu pun yang terjadi dengan Markobar. Saya curiga sesungguhnya cuitan kecebong itu memang strategi marketing untuk mempromosikan Markobar.

Terlepas dari trik marketing media sosial, usaha martabak Gibran memang laris manis. Akhir 2015 buka cabang di dua kota sekaligus: Semarang dan Jakarta. Sebelumnya, Martabak Kota Barat asal Solo ini sudah punya dua gerai di Solo dan cabang di Yogyakarta. Pokoknya, gara-gara kesuksesan Markobar, saya dan teman menjadi korban media sosial tertarik mencoba martabak yang katanya bisa 8 rasa satu loyang itu. Eh, begitu baca menu di tempat, ternyata bisa 16 rasa satu loyang! Super sekali!

Saat berada di depan dapur terbuka, saya melihat beberapa pria muda dengan sigap menyiapkan pesanan. Loyang demi loyang martabak mengantri untuk diberi topping sesuai pesanan.

“Itu green tea ya?”

Nggih,” jawabnya dengan bahasa Jawa yang terdengar cukup kental, dan kemudian dia meralat jawabannya dengan menggunakan bahasa Indonesia. “Maksudnya iya, mba.”

“Oh, gapapa sih mas. Saya ngerti bahasa Jawa, kok. Sedikit,” sahut saya sambil memerhatikan tangan pria muda tersebut menaburkan topping.

Sesekali pula pria muda ini berpose malu-malu. Saya mengulum senyum. Tidak heran, sih. Soalnya berapa pasang mata dengan saksama mengawasi aktivitas dapur Markobar, lengkap dengan kamera smartphone yang mencoba merekamnya. Sambil memerhatikan suasana yang makin ramai di depan muka Markobar, saya melihat para pemuda ini sangat lancar menyiapkan pesanan–padahal katanya baru buka sekitar dua mingguan–dan pula fasih berbahasa Jawa.

“Diimpor dari Solo ya, mas?” tanya saya iseng.

“Wah, kita bukan diimpor, tapi dibuang mba,” celetuk salah seorang karyawan Markobar.

Saya terkekeh mendengarnya. Jadi, tampaknya pria-pria muda penjaga gawang Markobar Cabang Cikini ini dikirim langsung dari Markobar pusat di Solo. Mungkin karena jadi jauh dengan kampung halaman, mereka menganggap sedang ‘dibuang’–tentu maksudnya bercanda.

Menilik Markobar penuh sesak, saya dan teman memilih untuk duduk di dalam restoran Seremanis. Markobar memang menempel di salah satu sisi restoran ini. Saya mengantri dan walaupun tidak lama, saya kaget juga mendapat nomor antrian 106, dari pesanan nomor 71 yang masih berlangsung. Berarti masih ada sekitar 30 pesanan yang mengantri sebelum saya. Wuih, tidak jauh beda dengan pengalaman saya icip martabak nutella di Pecenongan. Tidak saya sangka bahwa 30an pesanan tersebut akan menghabiskan waktu sekitar dua jam. Untung Seremanis menawarkan makanan ringan dan hidangan pencuci mulut yang bisa mengganjal perut.

Penantian panjang kami terbalas dengan seloyang Markobar yang disajikan dalam kotak kuning dengan gambar superhero berpose a la Superman. Alih-alih meniru mutlak penampilan jagoan asal planet Krypton tersebut, ikon Markobar malah digambarkan sebagai lelaki berambut pendek-hitam klimis, berkacamata dan berkumis melengkung a la Pak Raden, berbadan tegap-kokoh, mengenakan setelan kantoran berwarna biru kalem, lengkap dengan dasi merah, yang disibak untuk menunjukkan logo M di dada. Sungguh membuat penasaran maksud dibalik ikon ini apa. Ini siapa sih, Mas Gibran? Om Markobar? Markobarman?

This slideshow requires JavaScript.

Saya memesan martabak spesial delapan rasa, dan meminta satu topping green tea sebagai pengganti ceres. Dari delapan rasa yang ditawarkan, hampir semuanya varian coklat (nutella, delfi, toblerone, dst–yang tidak coklat hanya keju), sedangkan topping seperti kitkat green tea, tim tam red velvet dan ovomaltine dihitung sebagai topping alternatif dengan biaya tambahan.

Sebagai orang yang tidak terlalu menggemari hidangan manis berbahan dasar coklat, saya berharap tidak akan enek mencoba berbagai topping coklat di atas seloyang martabak, yang biasanya super greasy dengan olesan mentega yang warbiyasak. Kenyataan berkata lain: Markobar membuktikan bahwa mereka bukan PHP (bagi saya setidaknya).

Adonan martabak bulan Markobar tidak terasa berat ataupun memberikan sensasi super greasy yang bikin enek, tidak pula tebal yang membuat mulut harus menganga lebar untuk memakannya. Sebagian orang mungkin akan kecewa, karena super greasy dengan adonan disertai topping tebal adalah idealnya sebuah martabak bulan. Tapi, justru martabak yang disaji Markobar ini yang pas di lidah saya. Varian topping coklatnya, yang saya kira akan membuat enek, justru membuat makan bersama teman menjadi lebih seru. Sambil icip tiap topping, sambil berusaha menebak-nebak rasa varian coklat yang sedang di makan.

Intinya, Markobar seru untuk rame-rame dan kongkow-kongkow. Martabaknya top markotop, bar markobar! Tapi, jika ditanya akankah saya datang lagi? Mungkin tidak. Apakah saya akan memesan martabak Markobar via Go-Food? Yep! That will save so much time and energy.

Markobar – Cabang Cikini

Jalan Raden Saleh no 39, Cikini, Jakarta Pusat
Jam Buka: 17.00-23.00 WIB
Facebook/Twitter/Instagram: markobar1996


 

PS: Sesungguhnya, ketertarikan saya pada Markobar dikarenakan Kawista Punch. Kawista adalah buah yang sarinya menjadi minuman lokal di kawasan Lasem dan Rembang. Biasa tersedia sebagai sirup dengan rasa lebih kental dan minuman limun, yang sekilas memberikan sensasi minuman bersoda. Saya suka rasanya yang mendekati rasa sarsaparila atau root beer itu, sehingga penasaran pula dengan Kawista Punch a la Markobar. Namun sayang, minuman tersebut baru tersedia di Markobar Solo cabang SGM, sedang cabang Cikini, Jakarta saat ini masih fokus menjual martabak saja. Baiklah, mungkin ini tandanya saya harus mengunjungi Solo kembali.

Advertisements