“Mba, kiranya ke mana ya saya menghabiskan siang ini?”

Jawaban gadis penunggu penyewaan motor Tripoli di Banyuwangi kemudian membawa saya ke ZPB Bangsring.

“Bisa snorkeling di sana, mba,” ujarnya bersemangat.

Snorkeling? Menggiurkan. Namun, mata saya sayu dan otak masih melambat karena kekurangan tidur. Pagi itu saya baru turun dari Kawah Ijen, padahal baru menjejak Banyuwangi siang sebelumnya, setelah duduk di bus hampir 3 jam dari terminal Probolinggo.

Saya tahu saya tidak sanggup untuk snorkeling dengan kondisi tubuh butuh istirahat, yang ada malah nanti membawa petaka karena ngeyel. Hanya saja, saya jadi penasaran dengan ZPB Bangsring ini.

Saya kenakan helm dan kembali memacu si X-Ride sewaan. Sekitar 15 kilometer menuju Wongsorejo, letaknya kira-kira di antara Taman Nasional Baluran dan Kota Banyuwangi. Hm, berarti saya kembali melewati jalur Pantura?

Ragu membersit. Jalan yang melintang lebih dari 1.300 kilometer di sepanjang pesisir pantai utara Jawa ini terkenal sering memakan korban. Mengemudi sambil menahan kantuk jelas berbahaya di jalanan biasa–apalagi di Pantura, ibarat mengantarkan nyawa ke mulut macan. Bahaya! Namun terlanjur, rasa penasaran sudah menggelitik kalbu dan menuntut untuk dituruti. Saya hanya bisa mewanti diri untuk tetap melek dan mawas di jalanan.

Jalanan di kota Banyuwangi lebar-lebar dengan jumlah mobil yang tidak banyak. Angkutan umum ada, tapi jarang dan makin jarang melewati maghrib. Jalanannya tidak terlalu membingungkan, tidak seperti Phnom Penh yang melulu bikin nyasar padahal sudah baca peta. Apalagi rute yang mengarah balik ke Pantura, hanya ada satu arteri yang terhubung dengan Pantura, kalaupun bingung tinggal mengikuti arah yang dituju truk dan bus antar kota.

Tiga puluh menit lebih berkendara santai bersama truk dan bus Pantura, akhirnya saya menemukan plang bertuliskan ZPB Bangsring di sisi kanan jalan. Plang tersebut menunjuk jalan setapak tak terawat, diapit rimbun batang-batang tebu yang meninggi. Masih 500 meter ke dalam rupanya. Ternyata yang dimaksud dengan ZPB Bangsring adalah Zona Perlindungan Bersama di kawasan Bangsring. Di plang tersebut juga tertulis Kelompok Nelayan Samudera Bakti. Hm? Jadi, saya masuk ke daerah nelayan?

Ternyata tidak demikian. ZPB Bangsring mengarah pada area di bibir pantai yang sudah diset sebagai atraksi wisata setempat, alias sudah difasilitasi untuk pengunjung. Setelah parkir, saya disambut dengan keramaian khas pantai di kala liburan. Maklum, lagi tujuhbelasan. Saya lemparkan pandangan ke sekeliling.

This slideshow requires JavaScript.

Anak dan remaja berpelampung oren lincah menari-bermain di bibir pantai, ban-ban dan kano sewaan mengambang mengikuti irama ombak. Berbagai kalangan umur berkumpul, bersenda gurau, main air, dan tertawa girang–membuat kantuk sedikit memudar.

bangsring-8
Perahu yang menjemput dan mengantar pengunjung rumah apung.

Bendera merah putih berkibar gagah di atas lautan. Ada dua perahu hilir mudik mengantar penumpang ke rumah apung di tengah laut lepas. Perahu bermotor ini mirip jukung, namun terlihat modern dengan warna kuning cerah. Kekhawatiran saya perahu akan oleng karena cadik yang tunggal, tentu konyol. Setelah membeli karcis dengan petugas berkaos biru, saya menanti perahu jemputan.

Berjumpa Bunder, Si Penjaga Bangsring

Di atas rumah apung itu saya bertemu Pak Tongenek, anggota Komunitas Nelayan Samudera Bakti.

bangsring-6

“Saya dulu motas buat nangkap ikan hias. Itu mbak, makai potassium untuk bikin ikan teler supaya bisa ditangkap.”

Tapi, bersama teman-temannya, ia menyadari dampak negatif motas untuk ekosistem terumbu karang. Berbekal kesadaran itu, Samudera Bakti, dan selanjutnya ZPB Bangsring, terbentuk. Kemudian dibentuk pula Bunder atau Bangsring Underwater oleh anggota komunitas nelayan Bangsring. Bunder ini yang mengelola atraksi wisata lokal, termasuk rumah apung, snorkeling, sewa ban dan kano, serta sewa perahu untuk menyeberang ke Pulau Tabuhan yang konon alam bawah lautnya masih asri! Tapi untuk snorkeling singkat saja tidak perlu ke Tabuhan, di sekitar rumah apung pun pemandangan bawah lautnya sudah oke. Berenang sama hiu pun bisa dilakukan di rumah apung.

This slideshow requires JavaScript.

Seru, ya! Aktivitas yang dilakukan Bunder bersifat interaktif juga edukatif, karena masyarakat setempat dapat menikmati dan mengapresiasi langsung keindahan alam bawah laut, sembari dididik untuk turut melestarikan. Selain itu, sebagai zona perlindungan, Bangsring diputuskan menjadi Desa Berbasis Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan dilindungi dalam Pasal 35 Undang-Undang Republik Indonesia No. 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Jadi bisa dibilang kalau masyarakat lokal dan pemerintah setempat pun dapat menikmati manfaat langsung dari kegiatan pelestarian lingkungan oleh Samudera Bakti.

Sayang waktu tak memadai untuk mencoba segala atraksi wisata yang ditawarkan. Apa mau dikata, ibu(-kota) menyuruh pulang. Suatu waktu saya pasti kembali untuk menikmati Bangsring, namun sebelum itu: Halo lagi, Pantura!

Advertisements