sri1

Sri Lanka. Sebuah negara yang baru selesai saya hampiri. Kenapa Sri Lanka? Sesungguhnya, tidak ada alasan selain karena tiket promo AirAsia. Saya memang harus berterima kasih pada maskapai yang identik dengan warna merah ini. Tak dipungkiri, AirAsia sudah mengantarkan saya ke mana-mana. Kembali lagi. Sri Lanka. Sebenarnya ada apa saja yang ditawarkan dengan traveling ke negara ini? Jujur, saat itu saya tidak tahu. Bahkan sampai dengan H-7 sebelum keberangkatan, saya masih tidak punya rencana perjalanan yang fix.

Semua teman dekat yang saya percaya untuk menjadi teman jalan, sudah saya ajak. Tapi negatif. Sayang sekali, harga tiket yang lebih dari 2x lipat harga promo membuat teman saya mundur. Saya bertanya pada mereka, ternyata banyak yang khawatir karena tujuannya Sri Lanka. Apalagi ketika tahu saya belum punya teman jalan lainnya. Membaca-baca di internet, bahkan disebut bahwa Colombo termasuk kota yang tidak ramah pada perempuan. Angka pelecehan seksualnya tinggi, demikian laporan dan testimoni dari traveler perempuan yang saya temukan di internet.

Semua teman mengingatkan untuk waspada, mawas, bahkan kalau bisa tidak pergi.

Gentarkah saya?

Tentu.

Belum lagi di beberapa hari sebelum saya berangkat, seorang teman mengirimkan tautan berita tentang banjir yang melanda Sri Lanka. Ah. Semakin goyah hati ini. Lantas, akhirnya saya memutuskan untuk pergi? Ya. Gila? Tidak. Nekat? Mungkin. Sebenarnya, sampai sebelum urusan visa selesai, saya bahkan masih berpikir untuk tidak jadi jalan. Tapi asal tahu saja, saya mengurus visanya saja seminggu sebelum keberangkatan.

Banyak hal yang membuat saya khawatir dengan perjalanan kali ini, seperti kenyataan bahwa ini pertama kalinya, setelah sekian lama, saya akan traveling sendirian di tempat yang sama sekali baru. Kenyataan bahwa rencana perjalanan saya sangat kurang riset. Kecemasan akan cuaca setempat. Kemudian, ketibaan saya di tengah malam yang membuat saya memilih menginap di airport. Kekhawatiran saya akan minimnya koneksi internet untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman saat di perjalanan. Perbedaan steker listrik dengan Indonesia (travel adapter yang saya punya tidak cocok). Macam-macam rasa cemas menghinggapi saya, membuat saya goyang. To be super honest, all these nerves keep me right on my toes, all for the right reasons, too.

sri2
Plang yang tergantung di stasiun Kandy ini memberi semangat untuk tetap melanjutkan perjalanan saya. It’s courage that counts!

Namun sekarang, perjalananan sudah selesai. Saya sudah kembali ke negeri tercinta dengan selamat, membawa pulang cerita dan pengalaman, serta bertemu teman baru. Saya sudah bernapas lega, dan saya ingin berbagi cerita tentang Lanka yang cantik, menarik, dan ramah pada saya. Betul, tidak semua yang saya alami itu indah didengar. Sebagian pengalaman di Sri Lanka, membuat saya harus berkutat dengan rasa was-was yang membuat saya terjaga sampai larut—membuat saya berbohong—membuat saya marah—tapi, yang paling penting, membuat saya banyak tersenyum dan tertawa.

Terima atas pengalamannya, Sri Lanka! Suatu saat di masa depan, saya pasti kembali lagi. Sampai hari itu tiba, biar kumpulan tulisan ini menjadi kenangan saya saat di Sri Lanka.

_______________
Ikuti catatan perjalanan Sri Lanka di Beautiful Lanka.

Advertisements