Perjalanan ke Sri Lanka berlangsung dari Selasa, 24 Mei, sampai dengan Sabtu, 28 Mei 2016, dan hampir-hampir tanpa persiapan itinerary yang memadai.

Saya tiba di Sri Lanka tepat di penghujung hari 24 Mei dan memutuskan untuk menginap di dalam bandara. Setidaknya sampai subuh hari dan bus bandara, yang menuju terminal bus Colombo, beroperasi.

Sesampai di ibu kota Sri Lanka ini saya memiliki beberapa alternatif. Saya tentu sudah memegang nama-nama kota yang ingin saya kunjungi, seperti Kandy—tempat bersemayamnya Buddha’s Tooth, lalu Nuwara Eliya via Nanu Oya—di sini ada lokasi yang disebut Horton’s World End, atau Ella—kota kecil yang saya baca di TripAdvisor dan terdengar lebih menarik dari Nuwara Eliya; kemudian, kota kecil Dalhousie via Hatton—di sini terletak Adam’s Peak atau Sri Pada, puncak gunung yang menjadi tujuan wisata pilgrim umat Buddha di Sri Lanka. Ada pula kota-kota purba Sri Lanka seperti Sigiriya, Polonnaruwa, dan Dambulla yang terletak agak di utara yang masuk dalam pertimbangan saya.

Intinya, saya tahu ingin mengunjungi kota apa saja. Tinggal urutan kota yang dituju, kendaraan, dan jadwalnya yang belum pasti.

Mengunjungi 4 kota dalam waktu 4 hari, saya akui termasuk sangat ambisius. Saya tidak akan menikmati apa-apa, kecuali perjalanan yang panjang. Jadi, saya memprioritaskan dua lokasi yang pasti akan saya kunjungi, yaitu Dalhousie via Hatton untuk menaiki 5,500 anak tangga menuju puncak Sri Pada pas matahari terbit; dan Kandy, karena saya penasaran dengan Gigi Buddha. Prioritas level dua saya jatuh pada Ella atau Nuwara Eliya. Bagaimana dengan Colombo? Rencananya saya akan menghabiskan setengah hari di ibu kota Sri Lanka itu sebelum ke bandara untuk penerbangan pulang malamnya.

Saya tidak meriset tujuan saya lebih lanjut. Tidak cukup waktu.

Menentukan kota-kota yang ingin dikunjungi ini saja saya lakukan di 48 jam terakhir sebelum keberangkatan dan selama transit di Kuala Lumpur. Saya cukup berpasrah saja dengan situasi di jalan nanti. Yang pasti, saya sudah bertekat untuk membeli sim card lokal dengan paket internet setiba di Bandaranaike Airport. Itinerary boleh tidak siap, tapi dengan koneksi internet, saya pasti bisa improvisasi.

Menanti penerbangan ke Sri Lanka di klia2. Mau ke mana saja nanti?
Menanti penerbangan ke Sri Lanka di salah satu gate klia2. Mau ke mana saja nanti?

Dua minggu sebelumnya, saya sudah sempat berkorespondensi dengan seorang teman asal Sri Lanka melalui media sosial Couchsurfing. Medha, namanya, memberitahu saya bahwa di dalam bandara ada loket penjualan sim card untuk turis. Hanya saja dia tidak tahu apakah saat saya tiba loket tersebut masih buka atau sudah tutup. Maklum, saya tiba di bandara hampir tengah malam.

Jadi, setelah perenungan panjang selama penerbangan melintas samudera Hindia, rencana saya begitu tiba di Sri Lanka dan mencapai Colombo…

Adalah menaiki kereta pertama menuju Hatton, kemudian antara naik bus atau bajaj, menuju Dalhousie. Saya akan bermalam di sana, kemudian mendaki puncak Adam’s Peak di tengah malam. Menikmati sunrise di ketinggian 2,243 meter. Turun dan beristirahat sejenak. Sebelum makan siang, saya akan berangkat menuju Hatton kembali untuk berkereta ke Ella, atau menuju Nanu Oya untuk ke Nuwara Eliya. Saya akan menghabiskan 26 Mei bermalam di salah satu kota itu, kemudian menghabiskan setengah hari keesokannya berkeliling di sana. Jumat siang, 27 Mei, saya akan menuju Kandy dan bermalam. Pagi hari pada 28 Mei saya akan berkunjung ke kuil tempat Gigi Buddha bersemayam. Setidaknya setelah atau sebelum makan siang, saya akan berkereta ke Colombo, menghabiskan beberapa jam, sebelum menuju ke bandara dan mengucapkan selamat tinggal.

Sebagai itinerary bayangan, menurut saya ia sudah cukup solid dan dapat dieksekusi.

Tiba di Bandaranaike Airport yang memiliki desain modern. Langsung terasa kalau negara ini mayoritas penduduknya mengikuti ajaran Buddha.

Itu rencananya. Ini kenyataannya.

Sayangnya, begitu saya mendarat di Bandaranaike Airport dan berbincang dengan orang lokal, saya menemukan bahwa puncak Sri Pada baru saja ditutup, karena perayaan Waisak sudah lewat.

Off season, kata mereka. Saya langsung patah hati.

Membayangkan mendaki puncak Sri Pada telah memacu adrenalin saya sejak transit di klia2. Kenyataan berkata lain, tampaknya saya belum berjodoh mendaki gunung yang dijuluki jakun Adam itu.

Segera begitu saya mendapatkan sim card lokal, saya langsung browsing informasi tentang Sri Pada. Ternyata benar, hiking season Sri Pada biasa berlangsung dari Desember sampai Mei, di minggu hari Waisak dirayakan di Sri Lanka. Waisak tahun ini baru berlalu pada 21 Mei 2016. Artinya, saya terlambat 4 hari. Ah. Memang benar belum berjodoh.

Saya bisa saja nekat tetap melakukan perjalanan sesuai dengan itinerary saya. Dengan risiko menghabiskan waktu 1 hari untuk perjalanan yang sia-sia, kalau Sri Pada tidak bisa didaki. Informasi yang saya dapatkan simpang siur. Ada yang bilang jalurnya ditutup total. Ada yang bilang hanya lampunya dimatikan, kalau mau mendaki saya harus bawa senter sendiri. Informasi lain mengatakan tidak akan ada penjaja makanan kecil dan minuman hangat di atas, semua tutup. Lalu, kemungkinan saya akan mendaki sendirian, karena bukan musimnya mendaki.

Saya bisa saja bersikap ‘bodoh amat’ dan memilih nekat, karena toh untuk mendaki rutenya sudah jelas. Medannya dilengkapi dengan anak tangga. Bisa saja kan? Tetapi, saya putuskan untuk tidak nekat dan berakhir konyol.

Ini negara orang, saya hanya pendatang. Sendirian pula. Siapa yang menjamin kenekatan saya akan berbuah pengalaman manis?

Ketika orang lokal menganjurkan untuk tidak ke sana, karena off season, kenapa harus ngotot? Mereka lebih tahu daripada saya. Akhirnya, saya hanya meratap. Adrenalin saya kembali terpacu, kali ini karena itinerary berantakan dan saya hanya punya waktu beberapa jam sebelum subuh tiba dan perjalanan dimulai. Saya langsung browsing kilat. Puji syukur koneksi internetnya lancar.

Sambil membaca-baca hasil telusuran di Google, saya berpikir untuk menuju Kandy terlebih dulu. Sebelumnya, saya memilih untuk langsung ke Hatton dari Colombo, karena letak Sri Pada yang jauh dan moda transportasi ke sana yang tidak bisa diperkirakan. Lagipula, bila mau mendaki, lebih baik dilakukan di awal perjalanan ketika masih semangat.

Tapi kan, saya tidak jadi ke Sri Pada. Prioritas utama saya masih ada satu lagi, yaitu mengunjungi kota Kandy untuk melihat Gigi Buddha.

Penampakan kereta ekonomi dengan rute Colombo-Kandy.
Gerbong kereta ekonomi Colombo-Kandy tampak dari dalam.

Setelah itu, antara Ella atau Nuwara Eliya. Sisanya? Hm. Mungkin saya habiskan di Colombo saja. Begitu Plan-B saya. Ya. Manusia memang bisa berencana, tapi kenyataan di lapangan bisa jadi jauh dari rencana tersebut. Setelah saya mencapai Kandy, perjalanan saya perlahan mulai mendapatkan titik terang. Bertemu dengan para traveler lain, keputusan mengenai destinasi kedua saya akhirnya bulat juga.

Saya memilih berkunjung ke Ella daripada Nuwara Eliya.

Pertama, saya membaca bahwa perjalanan kereta menuju Nuwara Eliya memiliki pemandangan yang sangat indah. Hanya saja, objek wisata yang ditawarkan adalah kebun-kebun teh dan Horton World’s End. Negara Indonesia sendiri kan punya kebun teh, jadi Nuwara Eliya tidak begitu menarik bagi saya.

Salah satu hal yang harus dilakukan di Sri Lanka: menaiki kereta yang melintasi Nanu Oya (Nuwara Eliya) atau Ella. Great view!
Salah satu hal yang harus dilakukan saat di Sri Lanka: menaiki kereta yang melewati rute Nanu Oya (Nuwara Eliya) atau Ella. Great view!

Di sisi lain, Ella adalah kota kecil. Turistik. Tapi, kota kecil tempat terletaknya Mini Adam’s Peak, atau yang juga dikenal sebagai Little Adam’s Peak. Well, biar tidak jadi mendaki Adam’s Peak, kenapa tidak trekking di versi mininya saja? Lagipula, saya baca di TripAdvisor, bahwa salah satu rumah makan di Ella menyajikan menu khas Sri Lanka yang sangat enak.

Dari Ella, perjalanan saya berubah menjadi petualangan mencoba bus AKAP asal Sri Lanka. Awalnya, dari Ella saya akan bertolak menuju Colombo dengan kereta malam. Beberapa orang lokal yang saya jumpai di kereta Kandy-Ella tidak menyarankan saya—perempuan yang traveling sendirian—untuk menaiki kereta malam. Bahaya karena banyak perampok. Saya ragu mau nekat atau tidak. Tetapi, lagi-lagi, kenyataan di lapangan yang menentukan nasib perjalanan saya. Kereta malam tidak beroperasi di hari yang saya mau.

Bye, Plan-B. Welcome, Plan-C.

Opsi baru saya adalah naik bus atau kereta siang menuju Colombo, bermalam, kemudian lanjut ke kota tepi laut, Galle, untuk perjalanan pulang pergi satu hari. Katanya, perjalanan kereta Colombo-Galle tidak kalah menarik dengan rute kereta yang melewati Ella atau Nanu Oya. Bedanya, kalau yang terakhir menyuguhkan pemandangan dari ketinggian, rute Colombo-Galle menyajikan pemandangan laut. Ya. Rel keretanya dibangun dekat pinggir laut.

Terminal Bus di Kandy. Transportasi umum satu ini bisa jadi andalan jalan-jalan hemat di Sri Lanka.
Kesibukan di terminal bus yang menaungi puluhan bus dari dan ke berbagai rute seluruh Sri Lanka. Salah satu moda transportasi andalan untuk jalan-jalan hemat di Sri Lanka.

Tidak disangka, jiwa impulsif saya bergejolak ketika ngeh bahwa dari Ella saya bisa langsung menuju Galle dengan menaiki bus AKAP (Antar Kota, Antar Provinsi). Tanpa banyak pikir, saya melakukannya.

Ketika ada sebuah bus meluncur, dan para warga lokal dengan semangat memberi tahu saya bahwa bus tersebut menuju Matara—kota pinggir laut, satu jam sebelum Galle—saya pun langsung melompat menaiki bus tersebut.

Matara adalah kota ketiga, setelah Kandy dan Ella, yang saya hampiri, walaupun hanya untuk waktu yang sangat pendek. Dari Matara, alih-alih melanjutkan perjalanan ke Galle seperti maksud saya sebelumnya, keimpulsifan kedua mengantarkan saya untuk bermalam di Weligama—kota kecil di pinggir laut sebelum Galle.

Keputusan tersebut saya ambil karena saya berpikir untuk snorkeling pagi hari di Weligama, atau setidaknya menyaksikan stilt-fishing yang menjadi salah satu atraksi wisata yang dijual oleh pariwisata Sri Lanka.

Pagi hari di Weligama ternyata tidak sesuai harapan saya. Hujan menetes sendu sepanjang pagi. Tidak jadi snorkeling, tidak jadi stilt fishing, tetapi saya cukup suka dengan kota satu ini. Sebelum jam makan siang tiba, saya melanjutkan putaran terakhir perjalanan saya di Sri Lanka, menuju ke Galle.

Tempat wisata Galle yang terkenal adalah benteng yang mengelilingi salah satu sudutnya.

Benteng ini awalnya dibangun oleh bangsa Portugis pada 1588, dan kemudian dikembangkan bangsa Belanda yang menjajah berikutnya. Di kota ini saya mampir ke Galle Fort untuk melihat mercusuarnya—yang mengecewakan—dan makan siang di salah satu restoran yang menyajikan 10 jenis kari a la Sri Lanka. Selepas makan siang, saya keluar dari benteng dan bergegas menuju stasiun kereta yang letaknya dekat.

Suasana di dalam stasiun kereta.
Suasana di salah satu stasiun kereta lokal. Fasilitasnya standar, hanya kebersihan tiap stasiunnya patut diacungi jempol!

Dengan rasa deg-degan khas akhir perjalanan, saya membeli tiket kereta menuju Fort Railway, Colombo.

Dari stasiun kereta Fort Railway di Colombo, saya hanya sempat beristirahat sejenak untuk menyesap teh susu Sri Lanka yang terkenal enak, lalu mencari bus yang langsung menuju Bandaranaike Airport. Akhirnya, selesai sudah, 4 hari dan 4 malam saya yang mendebarkan di Sri Lanka.

 

_____________________

Rute Perjalanan Sri Lanka, 25-28 Mei 2016

Bandaranaike Airport, Katunayaketravel bus / ±1hrFort Railway, Colombotrain / ±2hrsKandy (stay) – train* / ±7hrsElla (stay) – intercity bus / ±5hrsMatara (short transit) – intercity bus / ±30minsWeligama (stay) – intercity bus / ±1hrGalletrain* / ±3hrsFort Railway, Colombotravel bus / ±1hrBandaranaike Airport, Katunayake.

* totally a must-do!

Ikuti catatan perjalanan Sri Lanka di Beautiful Lanka.

Advertisements