Selesai mengetik kewajiban hari ini, pintu kamar yang menjadi ruang kerja sementara dibuka oleh satu sosok familiar berkulit makin hitam. Saya maklum, soalnya saya juga sudah mendapat oleh-oleh kulit gosong setelah berhari-hari menghabiskan waktu di luar, bahkan sempat seharian melaut.

“Mau ke mana, Om?” Saya bertanya pada sosok tersebut. Feri Latief, fotografer profesional yang sedang menjadi teman seperjalanan selama dua minggu ini. Kali ini di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

“Bajo.”

“Aaak. Ikut!”

Saya segera menutup laptop. Pikiran sudah mulai suntuk menunggu kata-kata yang kali ini enggan mampir. Lagian, saya memang sudah penasaran ingin mampir lagi ke Kampung Bajo yang ada di Desa Lagasa. Lokasinya dekat dengan tempat yang menjadi rumah singgah kami, Galampano Kantolalo. Sekitar 3 menit berkendara santai dengan motor sudah memasuki kawasan yang terkenal sebagai kampung Bajo di Raha.

Hari sudah sore. Harapannya tentu ada aktivitas nelayan-nelayan di kampung Bajo tersebut yang bisa dilihat dan diabadikan dalam foto. Sebelumnya kami sudah sempat mampir sejenak di kampung Bajo. Saat itu kami menemukan bahwa tidak sedikit nelayan yang memilih menggunakan perahu mereka untuk mengangkut pasir dari pada menangkap ikan.

Raha sebagai ibukota Muna sedang mengalami perombakan wajah. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan reklamasi. Pulau Munante yang masih masuk dalam daerah administrasi Kabupaten Muna adalah salah satu pulau yang pasirnya hampir habis dikeruk untuk reklamasi ini. Sayang sekali, karena pulau tersebut memiliki potensi sebagai destinasi wisata pantai.

Ah, pikiran malah malang melintang terlalu jauh, padahal saya belum sempat bercakap-cakap dengan banyak orang di sini, terutama warga kampung Bajo mengenai program reklamasi tersebut.

Sore ini, saya habiskan waktu menemani om Feri untuk mengambil foto-foto aktivitas di kampung Bajo. Lain kali semoga ada waktu untuk mengobrol dengan warganya. Selamat menikmati foto-fotonya!

 

Advertisements