Jarang-jarang buka Facebook, kali ini saya disapa fitur “On this day“—fitur yang menunjukkan pada tanggal yang sama di masa lampau pernah mengunggah atau menandai kejadian apa di Facebook—yang menunjukkan foto ini.

Wuss! Tanpa babibu, ingatan melayang pada satu memori yang sudah 7 tahun berlalu, namun masih tampak dengan resolusi gambar setara Standard Definition dalam ingatan. Kira-kira 480p, lah.

Pagi-pagi buta itu, mungkin sekitar pukul 2 dini hari, saya dan Ega—teman jalan kali ini—bangun dan segera bebersih kilat. Udara dingin menyergap walau badan sudah dibalut baju tebal dan jaket. Saya memegang kunci motor, dan kami segera turun ke lantai dasar penginapan seadanya itu.

Masih sepi. Wajar. Bukan high season saat kami memilih perjalanan ke Dieng saat itu.

Saya menyalakan motor sewaan. Kondisinya sedikit mengecewakan karena usia dan rem yang tak lagi pakem. Saya panaskan mesinnya—baru menyala setelah diengkol beberapa kali.

Suara berisik knalpot memecah sunyi malam, membuat saya enggan berlama-lama di tempat dan memilih untuk segera melaju.

Sambil bercakap santai dan kadang cengengesan hanya kami yang tahu kenapa lucu, akhirnya kami berangkat membelah jalanan aspal berdebu. Masih pekat langitnya, nyaris tidak ada kawan di jalanan.

Berbekal patokan arah seadanya, ditemani dingin, dan celoteh yang tidak jelas lantaran beradu dengan deru angin, selama lebih kurang satu jam perjalanan akhirnya kami tiba di parkiran untuk pengunjung Gunung Sikunir, pas sebelum jalur trekking.

Saya ingat kami mendaki dengan kecepatan yang paling santai. Itu pun nafasnya sudah satu-satu, kadang satu-dua. Saya ingat kami hanya sampai di pelataran dan tidak sampai puncak. Saya ingat matahari terbit yang hanya tampak dari sinarnya yang menerobos kabut tipis. Saya ingat dingin yang bikin jari-jari kebas.

Dieng 2013
Bersama Ega di pelataran Sikunir.

Tak lama di atas, kami turun ke parkiran. Sayup-sayup terdengar dentuman musik yang alunannya mengajak bergoyang. Benar saja, di dekat parkiran ada pertunjukkan musik; impromptu atau hiburan tetap, saya tak peduli. Saya terpancing berjoget dengan para pengunjung lain yang sudah tersihir ketipak ketipung musik hasil instrumen a la kadarnya.

Lalu, menuju arah pulang kami beranjak. Lebih santai, karena hari masih sangat pagi. Lagi-lagi jalanan masih sepi manusia. Mungkin masih banyak yang menikmati alam mimpi, atau memilih bersantai di puncak gunung.

Kejadian itu datang mendadak ketika motor harus menghadapi tanjakan.

Motor tua, tanjakan, dan rem aus. Tampak seperti formula tepat untuk kecelakaan tunggal, bukan? Tambahkan tumpukan pasir di atas tanjakan, dan yang saya lupa perhatikan saat menyewa motor: ban yang menuju gundul.

Klop sudah. Laka tunggal terjadi.

Motor tua itu butuh momentum ngegas yang kencang sebelum bisa menanjak, maka itulah yang saya lakukan. Tepat di atas tanjakan berpasir itu, saya gagal mengendalikan kemudi motor. Ega terhempas. Saya terseret motor yang bergerak liar sejauh semeteran sebelum terjatuh.

Sambil cengengesan akibat shock dan meringis, kami cek badan. Luka dan memar ada tapi tak parah, untung terlindung pakaian yang tebal.

Memilih tidak memakai sebelah sarung tangan karena harus ngegas, bagian bawah telapak tangan kanan saya harus ikhlas berciuman dengan aspal dan lecet cukup parah.

Pergelangan kaki kiri juga terkilir. Saya abaikan karena tidak ada luka luar, tapi seiring waktu berlalu betis dan pergelangan kaki malah membengkak cukup signifikan.

Dipikir-pikir, untung hanya itu. Bila sekarang saya pikirkan, rasanya ingin mendengus Untung. Dasar orang Indonesia.

Kembali lagi ke ingatan Januari 2013 itu; seperti peribahasa yang tersohor, the show must go on. Sambil menahan rasa cenat cenut di sekujur tubuh kami pun kembali berkendara, menuju ke destinasi kedua: Telaga Warna.

Untung (lagi) saya membawa baju ganti, sehingga saat tiba di destinasi tidak terlalu jadi pusat perhatian karena dekil akibat laka tunggalnya. Yah, walaupun tetap ditanya dan godain sama petugas dan pengunjung saat mengantri di loket pembelian karcis.

Kami pun menikmati pemandangan telaga warna yang indah-indah mistis berkabut, sesekali berpose untuk mengabadikan ingatan, juga meringis ketika nyeri dan cenat cenut tiba. Akhirnya, pegal linu karena kejadian apes tadi, dan kantuk, membuat kami tidak nyaman juga berlama-lama di dalam kawasan Telaga Warna.

Tertatih-tatih meninggalkan destinasi, kami kemudian mampir di warung oleh-oleh tak jauh dari muka pintu masuk Telaga Warna. Lapar dan pincang membuat saya enggan melongok mencari suvenir. Saya memilih mampir di warung makan di deretan depan komplek penjaja oleh-oleh, pas di pinggir jalan.

Di situ saya memesan mie ongklok, menu khas daerah Wonosobo. Mie tebal dengan kuah kental ini mengingatkan saya pada sajian mie dari masa kecil, yaitu Lomie. Serupa tapi sesungguhnya tidak sama.

Di warung inilah saya berjumpa seorang bapak yang menanyakan tentang kaki saya yang bengkak. Lalu, ia menawarkan untuk memijatnya. Saya awalnya enggan, tapi kemudian menerima tawaran tersebut.

Dieng 2013
Dipijat sampai sembuh. Terima kasih, bapak! 🙂

Tidak banyak yang saya ingat dari kejadian itu selain saya meringis kesakitan dan cengengesan bercanda dengan si bapak. Yang membuat ingatan ini kuat bercokol bahkan setelah tahunan berlalu, adalah kebaikan hati si bapak yang bahkan namanya pun tidak kutanyakan.

Tidak ada yang ia minta dari bantuan yang ditawarkannya itu. Tidak terima kasih, tidak pula uang.

Kejadian ini adalah salah satu yang membuat saya percaya bahwa di dunia ini masih banyak orang baik. Kejadian ini pula yang membuat saya tidak ragu untuk melakukan perjalanan sendiri ke tempat-tempat baru tanpa merasa cemas yang berlebihan.

Kejadian ini pula yang mengingatkan dan menguatkan saya, lagi dan lagi terutama saat ragu menyergap, bahwa hubungan manusia tidak harus transaksional dan materialis.

Kali ini mungkin saya harus berterima kasih dengan fitur “on this day” yang membawa pada ingatan yang humanis ini. (Walaupun kadang-kadang ia mengingatkan saya pada memori yang sedih atau mengagetkan di masa lalu. Welp!)