“Kalau traveling sendirian, bagaimana caranya, sih?” Saya kerap kali ditanyai hal ini.

Sebagai pejalan yang menggemari traveling sendirian, perjalanan yang hanya mengandalkan diri sendiri adalah perjalanan yang paling menyenangkan buat saya. Memang tidak untuk semua orang, tapi adakah perjalanan yang benar-benar sendirian?

No Strangers Here, Only Friends You Haven’t Met

Tulisan itu saya temukan di salah satu sudut kafe BBQ yang ada di Busan. Berada dalam perjalanan dengan diri sendiri, rasanya kalimat itu tidak perlu ditanyakan keabsahannya. Saya percaya tidak ada orang yang pernah jalan-jalan sendiri. Hanya saja, tulisan itu sendiri seperti tidak terlalu diamini di Korea Selatan.

Negara yang memiliki budaya komunal ini memandang aneh ketika ada seseorang yang sendirian di tengah keramaian. Makan sendiri atau melakukan apa pun di ruang publik sendirian bukan perkara yang mudah dilakukan di Korea Selatan. Akan ada mata yang memandang dengan penasaran, bahkan terkadang menuduh, tak jarang membuat yang sendiri menjadi risih karena tekanan sosial tersebut.

It’s weird to eat alone like what you do now,” ujar Jessy.

Gadis muda yang bekerja sebagai pelayan kafe BBQ itu menghampiri saya yang duduk sendiri. Suasana kafe yang sedang tidak riuh membuatnya sempat berbagi cerita tentang kehidupan di Korea Selatan pada saya sembari menggunting daging-daging yang sedang berasap di atas panggangan.

18077169_10155161459007159_4474334826075596140_o

Beberapa tahun ini tanggapan dari masyarakat saat melihat seseorang sendirian sudah lebih baik, katanya. Mulai banyak anak muda, terutama yang waktunya habis untuk bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup yang makin lama makin, yang memilih untuk berpisah dari gerombolannya dan mulai menikmati waktunya sendiri.

Sambil mendengarkan kisahnya, perlahan pikiran saya melayang pada hari-hari lalu ketika saya melakukan perjalanan memutari semenanjung Korea.

Dari Gyeongju, kota peninggalan Kerajaan Silla yang sedang bersemi di selatan, sampai ke puncak Ulsanbawi di kawasan Taman Nasional Gunung Seorak. Tanpa saya sadari memang banyak mata yang menatap penuh pertanyaan ketika melihat seorang perempuan melakukan perjalanan sendirian, sampai akhirnya mereka sadar bahwa saya adalah turis dan tatapan mereka berubah penasaran tentang asal saya.

 

***

 

Bulu kuduk di tengkuk langsung meremang begitu saya turun dari bus dan disambut hembusan angin. Awal musim semi di Gyeongju masih menyisakan hawa dingin yang menusuk. Tapi rasa dingin itu tidak terlalu terasa ketika mata saya menangkap semburat merah jambu selepas pelataran parkir.

1270177

Sakura, pikir saya spontan. Senyum lebar segera menghias wajah saya. Piknik di bawah pohon bunga sakura yang berkembang adalah romansa klise tentang musim semi. Setidaknya sekali saja saya ingin merasakan musim semi yang klise. Dengan gembira, segera saya langkahkan kaki menuju taman yang terletak sebelum pintu masuk Kuil Bulguksa. Hamparan rumput hijau yang diteduhi pohon-pohon dengan bunga bermekaran menyapa saya.

Melangkah lebih dekat, tampaknya bunga-bunga itu bukan sakura. Kelopaknya lebih banyak, lebih besar, dan lebih padat.

Gyeobsa cherry blossom atau double leaves sakura, jawab teman ketika saya bertanya saat mampir di apartemennya. Prunus ‘Kanzan’ adalah jawaban dari Google.

Usut punya usut, ternyata bunga sakura yang biasa sudah berguguran seminggu sebelum saya tiba, hanya menghias beberapa titik sembarang di seantero semenanjung Korea. Usia sakura memang hanya sepintas lalu, namun menemukan Prunus ‘Kanzan’ membuat saya sadar betapa musim semi tidak hanya sakura semata.

17972013_10155122095427159_7435484303149151354_o

Bicara tentang Sakura, ia menjadi hal sensitif yang dipolitisasi di Korea Selatan. Beberapa tahun lalu, sakura yang terkenal sebagai komoditi di Jepang diklaim berasal dari Korea, dan diboyong ke Jepang saat masa penjajahan berlangsung.

Seorang pemuda di Museum Sejarah Penjara Seodaemun di Seoul bercerita tentang orang-orang Korea Selatan yang merasa bahwa Jepang telah merampas banyak hal dari mereka. Sakura bukanlah satu-satunya.

Begitupun, saat di Kuil Bulguksa melihat orang-orang menikmati piknik di bawah bunga Prunus ‘Kanzan’, sentimen itu tidak terasa. Saya pikir lebih banyak orang yang ingin menghabiskan waktunya dengan piknik bersama yang terkasih daripada berdebat perkara identitas yang dibikin rumit karena politik.

1270383

Di Gyeongju, kota yang dulunya menjadi pusat kerajaan Silla ini, banyak spot asik untuk piknik atau sekadar melepaskan lelah baik buat turis seperti saya, atau buat warga lokalnya. Selain Kuil Bulguksa dan tandemnya, Kuil Gua Seokguramyang sedikit berada di luar kota, bisa pula menghabiskan waktu mengelilingi kota Gyeongju dengan mengenakan sepeda dan menikmati malam sendu di Telaga Wolji. Tempat yang dulunya disebut Telaga Anapji ini disinari cahaya kebiruan ketika malam tiba, membuat pengunjungnya dapat meresapi malam-malam musim semi dengan khidmat sambil membayangkan kehidupan di pangeran dan putri masa Kerajaan Silla dulunya, seperti yang saya lakukan.

 

***

 

Salah satu kegiatan yang menandakan musim semi di negeri ginseng sudah tiba adalah banyaknya orang yang memulai kembali aktivitas di luar, seperti trekking di gunung. Berjarak hanya sekitar setengah jam perjalanan dari kota Sokcho, saya putuskan untuk menjajal salah satu jalur trekking yang ditawarkan.

Ulsanbawi adalah gugusan gunung dari batu granit yang membentang sepanjang 4 kilometer. Berwarna putih bersih dan berdiri kokoh dengan latar langit biru dan warna hijau pepohonan, di pagi hari Ulsanbawi terlihat elegan.

Jalur trekking menuju puncaknya berjarak sekitar 3,8 kilometer dengan rata-rata waktu penanjakan 2 jam. Hari itu saya habiskan lebih dari 3 jam untuk mendaki. Berkali-kali saya mencuri waktu istirahat sambil mengagumi vegetasi di hutan dan bunga-bunga yang bermekaran.

Musim semi di Korea Selatan erat dengan perayaan ulang tahun sang Buddha. Lampion berwarna-warni dengan figur Buddha tercetak di sisinya menghiasi beberapa pojokan kota, terutama di sekitar kuil-kuil.

1270737

Tidak terkecuali ketika memasuki kawasan Taman Nasional Gunung Seorak di Provinsi Gangwon ini. Kuil Sinheungsa dan Heundeulbawi, misalnya, jadi tempat yang membuat saya terlena dengan suasana dan pemandangannya.

Menanjak ke atas, saya bertemu dengan orang-orang dari berbagai usia. Dari kumpulan orang tua yang mendaki bersama teman-temannya. Pasangan kekasih yang menghabiskan waktu bersama menikmati alam. Anak-anak sekolahan yang sedang studi wisata bersama guru-gurunya. Juga turis mancanegara seperti saya yang berjalan sendiri menuju puncak Ulsanbawi.

17917824_10155131769547159_4732407197952007281_o

“Good morning!”

“Annyeonghaseyo.”

“You can do it. Just a little more.”

“Hwaiting!”

Sepanjang jalan saya bertukar sapa dan senyum dengan mereka. Mungkin orang-orang di Korea Selatan terbiasa dengan hidup berkelompok, tapi perjalanan ini membuktikan bahwa sendiri tidak berarti sendirian. Saya disambut dengan tangan terbuka dan senyum lebar.

Pada akhirnya, saya setuju dengan tulisan di restoran BBQ itu, memang tidak ada yang namanya orang asing, hanya orang yang belum pernah kita jumpai saja.

 


 

Panduan Melancong  A La Musim Semi Di Negeri Kimchi*

Negara di kawasan Asia Timur yang terkenal dengan kuliner sehat berupa kimchi ini mengalami musim semi antara akhir bulan Maret sampai dengan akhir Juni, dimulai dari bagian selatan Pulau Jeju. Temperatur udara pada musim ini memiliki rentang yang cukup jauh dari -2 derajat selsius pada dini hari sampai dengan 19 derajat selsius ketika matahari mencapai puncaknya.

 

Menuju Gyeongju

Bandar udara terdekat dari Gyeongju adalah Bandara Internasional Gimhae yang terletak di Busan. Dari bandara tersedia bus menuju Gyeongju dengan tarif 9.000 KRW dan perjalanan berdurasi kurang lebih satu jam. Di Terminal Bus Gyeongju terdapat kios informasi untuk wisatawan.

 

Bus dan Sepeda

Transportasi dalam kota Gyeongju adalah bus. Terdapat juga penyewaan sepeda dengan biaya 7.000 KRW untuk satu hari dengan pengembalian sepeda pada pukul 7 malam. Untuk mencapai Kuil Bulguksa, pengunjung dapat menaiki Bus no 10 atau 11, dan menyambung dengan Bus no 12 untuk mencapai Kuil Gua Seogukram. Sedangkan Telaga Wolji dapat dicapai dengan berjalan kaki dari pusat kota atau dengan mengendarai sepeda.

 

Menuju Sokcho dan Taman Nasional Gunung Seorak

Kota terdekat adalah Sokcho di bagian utara Korea Selatan. Kota yang terkenal dengan kuliner mina baharinya ini dapat dicapai dengan bus dari berbagai kota besar dan semi-besar. Dari Seoul, bus menuju Sokcho dapat diakses melalui Terminal Bus Dong Seoul atau Terminal Bus Gangnam Express dengan tarif sekitar 20.000 KRW dan jarak tempuh sekitar 3 jam.

Jika sedang dalam musim liburan maka lebih baik membeli tiket bus PP Seoul-Sokcho dari jauh hari sebelum kehabisan. Musim liburan juga berarti harus mengantisipasi jarak tempuh yang lebih panjang karena macet dan ketersediaan akomodasi di kota Sokcho.

Untuk mencapai Taman Nasional Gunung Seorak dari Sokcho dapat dilakukan dengan menaiki bus nomor 7 atau 7-1 yang berhenti langsung di depan pintu masuk TN Gunung Seorak. Kedua bus ini tidak beroperasi 24 jam dengan keberangkatan paling pagi pukul 5, jadi lebih bijak untuk menanyakan keberangkatan bus terakhir dari halte di depan gerbang TN Gunung Seorak.

 

Taman Nasional Gunung Seorak

Tidak semua bagian Taman Nasional Gunung Seorak terbuka untuk umum, terutama di Musim Semi dan Musim Gugur dikarenakan alasan keselamatan. Silakan cek informasinya di situs web http://english.knps.or.kr/ terlebih dulu. Harga tiket masuk TN Gunung Seorak adalah 3.500 KRW per orang dewasa.

Di dalam TN Gunung Seorak juga tersedia fasilitas berupa cable car yang beroperasi dari pukul 9 pagi sampai 5.30 sore. Fasilitas ini tersedia sekitar 300 meter dari pintu masuk TN Gunung Seorak menuju Puncak Gwongeumseong dengan tarif 10.000 KRW per orang untuk perjalanan PP.

 

T-Money

Kartu uang elektronik ini mempermudah transaksi dan menghemat waktu perjalanan ketika menggunakan bus dalam kota dan subway di kota-kota besar. Ia dapat digunakan dan diisi ulang di banyak merchant, termasuk untuk belanja di mini market. Kartu T-Money dapat dibeli seharga 4.000 KRW dengan saldo nol di mini market seperti 7-Eleven atau C-U.

 

* Tulisan ini dibuat berdasarkan perjalanan pada musim semi tahun 2017.